Kini
hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja
bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir
senyum, kata halus merayu memanja
Kepada
setiap mereka yang datang
Dosakah
yang dia kerjakan
Sucikah
mereka yang datang
Kadang
dia tersenyum dalam tangis
Kadang
dia menangis di dalam senyuman
Apa
yang terjadi terjadilah
Yang
dia tahu Tuhan penyayang umatnya
Apa
yang terjadi terjadilah
Yang
dia tahu hanyalah menyabung nyawa
Ini sepengal lagu
Kupu-Kupu Malam ciptaan Titiek Puspa. Lagu yang cocok menjadi pembuka dalam
tulisan kali ini.
Beberapa hari lalu
saya baru saja menamatkan sebuah novel berjudul Re:, karya Maman Suherman. Saat
itu Herman masih menjadi mahasiswa Kriminologi Universitas Indonesia. Novel ini
kisah nyata dari proses penulisan skripsi Herman yang mengangkat kasus pelacuran,
dengan Re sebagai narahubungnya.
Re; berlatar
belakang tahun 1989, namun setelah 25 tahun kemudian menurut Heran tidak banyak
yg berubah. Hanya bentuk dan kemasannya yg berubah, tapi esensi dan isi
masalahnya tetap sama.
Novel ini diawali
dengan cerita Sinta (teman Re) yang dibunuh. Lalu Herman semakin masuk kedalam
dunia pelacuran yang selama ini tidak pernah ia bayangkan. Dari berbagai temuan
lapangan, Herman membuat klasifikasi menurut jenis kelamin. Menurutnya, di Jakarta
dan berbagai kota besar lainnya yang berkembang bukan hanya pelacur perempuan
tapi juga laki-laki bahkan banci. Jadi selain Wanita Tuna Susila (WTS),
seharusnya ada juga istilah Lelaki Tuna Susila (LTS ) dan Banci Tuna Susila
(BTS).
Selain hasil temuan
Herman yang kelak dimasukkan ke dalam skripsinya, novel ini lebih banyak
menyajikan kehidupan Re;. Berbagai hal yang Herman ceritakan merupakan kisahnya
dari awal bertemu Re hingga Ia menjadi supir Re bahkan sampai Re meninggal
(dibunuh).
Sebuah kalimat pilu
terucap dari mulut Re sesaat setelah menceritakan kecurigaan atas kematian
Sinta, " lonte itu sepertinya saja hidup karena masih bernapas, padahal
sudah mati. Sering dianggap bukan manusia. Kalau sudah tidak diperlukan,
dibuang begitu saja. Dikejar-kejar seperti coro. Diinjak-injak sampai nggak
berbentuk!"
Cukup segitu saya
menceritakan tentang buku ini, saya pikir lebih baik kalian membacanya
langsung.
Kemarin saya bertemu
Ebi, yang saat ini menjadi salah satu mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta.
Dia bercerita kepada saya bahwa saat ujian kemarin dia disuruh menggambar
anatomi tubuh perempuan.
Saat itu pula di
dalam kelas dihadirkan seorang perempuan dengan keadaan hampir telanjang. Hanya
bagaian kelaminnya saja yang tertutup bahan. Teman saya itu tercengang dengan
ujiannya kali ini. Dia bilang bahwa perempuan itu dijadikan objek gambar selama
45 menit dengan bayaran hanya 750.000!!!! Ini gila pikir saya!
Atau cerita dari Bu
Risma (Walikota Surabaya) yang pernah berdialog dengan warganya di kawasan
Dolly. Dalam sebuah liputan Ibu Risma bercerita bahwa ia pernah bertemu dengan
seorang nenek-nenek yang masih menjadi pekerja seks.
Saat ditanya Bu
Risma "diusia setua ini pelanggannya siapa?"
Nenek itu menjawab,
"ada bu, biasanya anak-anak".
"memannya
mereka bayar berapa?"
"dibayar dua
ribu juga saya terima Bu.
Ibu Risma menitihkan
air mata seketika. Saya kira kalau saya secara langsung mendengar cerita dari
nenek itu saya juga bakalan nangis termehek-mehek. Ini sangat miris.
Meski sudah banyak mendengar cerita seperti
ini, saya masih selalu tercengang. Saya sering berpikir tentang kehormatan
perempuan. Dari cara berbicara, berpakaian, bahkan tingkah lakunya. Tapi
semakin saya masuk ke dalam kisah-kisah itu, saya semakin paham bahwa nyatanya
kehormatan hanya omong kosong bagi mereka yang "bingung" bagaimana
caranya agar besok mulutnya tetap tersumpal makanan.
Benar kata Titiek
Puspa, yang mereka tahu hanyalah bagaimana menyambung nyawa.
Mengutip sebuah
pesan dari novel Re:
Pernah
kutanya,
Adakah
surga untuk Re yang bergelimpang dosa?
Jawabmu,
semua orang berkalung salah dan dosa
Tak
ada yang bisa jangkau surga,
Kecuali
karna ampunanNya
Re:,
katamu, Tuhan bagi siapa saja!
Man,
Kalau
mau ikut surgakan aku,
Tuntaskan
skripsimu
Tulis
apa adanya, kabarkan tentangku
Dan
tentang duniaku
Sekian.