Senin, 12 Juni 2017

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri


https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg
Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Rawa Belong untuk menuju rumah. Pasar bunga terbesar seantero Jakarta ini menawarkan pemandangan cantik yang berbeda dengan pasar biasanya. Di sana kau tak akan menemukan sayur dan ikan, satu-satunya yang kau temukan hanya kembang alias bunga!

Pedagang kecil suka menjajakan bungan-bungannya di pinggir jalan, sepanjang rute mikrolet M11 yang biasa saya lewati. Berbagai macam bunga, saya tidak tahu namanya yang jelas semuannya cantik.

Suatu ketika saya melihat pedagang sedang menghilangkan duri dari setangkai mawar merah. Mawar merah yang biasanya diidentikan dengan lambang cinta dan kasih sayang itu.

Mengapa pedagang itu menghilangkan duri mawar?

Mungkin alasannya agar duri itu tidak melukai pembelinya.

Melihat pedagang yang menghilangkan duri itu membuat saya berpikir. Pada suatu bentuk yang indah, ia sering kali dan mampir selalu memiliki sisi buruk. Seindahnya bunga mawar, ia tetap berduri! Itu realitas yang tidak dapat dipungkiri.

Ia indah dipandang sekaligus ia juga bisa melukai. Mawar dan durinya adalah simbolisasi realitas hidup bukan hanya tentang cinta dan kasih sayang.

Menghilangkan duri pada mawar sama saja menolak realitas yang menyatakan bahwa segala sesuatu dalam hidup tidak melulu indah. Mawar yang tidak berduri bukan lagi simbolisasi realitas kehidupan, tapi ia menjadi simbol kemunafikan. Ia menutipi segala yang buruk, padahal sisi buruk itu adalah bagian dari diri yang tidak dapat dipisahkan. Mawar ya pasti berduri!

Oh tapi kan mawar-mawar ini hanya sebuah komoditi yang diperjual-belikan. Peduli apa tentang filososinya. Ah iya, komersialisasi memang penuh kemunafikan.


Sekian.

Rabu, 24 Mei 2017

Gerbong Khusus Wanita


http://annida-online.com/foto_berita/62inilah-fungsi-adanya-gerbong-wanita-di-commuter-line.jpg
Hari ini dalam kelas Perempuan dan Politik, teman saya mempresentasikan studi kasus tentang Gerbong Wanita di KRL Jabodetabek.

Sepanjang presentasi saya tidak sependapat dengan rumusan yang mereka suguhkan, sebab mereka menganggap bahwa gerbong ini adalah solusi pagi penyelesaian kasus pelecehan seksual dalam transportasi umum (KRL).

Tidak terjadi perdebatan sengit, tapi saya hanya memberi sanggahan sedikit.

Bagi saya pengadaan gerbong khusus wanita ini tidak menyelesaikan masalah pelecehan seksual yang dialami perempuan di KRL. Gerbong wanita ini tidak memberikan dampak yang singnifikan dalam mengurangi angka pelecehan, justru menimbulkan fenomena baru yakni minimnya empati antar penumpang didalamnya.

Teman saya memberikan pembelaan, "kalau menurut saya gerbong itu cukup membantu, karena memberikan rasa aman bagi perempuan"

Dan pernyataan itu saya sanggah, "seharusnya dimanapun (gerbong perempuan atau campur) perempuan harus memiliki rasa aman. Itulah yang harusnya dijamin oleh penyedia moda transportasi dan pemerintah"

"diadakannya gerbong khusus wanita bukan mengurangi pelecehan, tapi memang megcut agar tidak terjadi pelecehan sebab penumpang semuanya perempuan. Sedangkan bagi perempuan yang naik di gerbong campur, apa jaminannya agar mereka tidak dilecehkan?"

Inti perdebatannya kira-kira seperti itu.

Solusi pengadaan gerbong khusus untuk mengurangi pelecehan seksual saya rasa tidak menyentuh akar permasalahan. Gerbong itu hanya membuat perempuan "diekslusifkan" padahal yang diperjuangkan perempuan selama ini kan kesetaraan. Perlu ada kesadaran untuk saling menghormati tiap individu dan tidak menjadikan seseorang sebagai objek seksual.

Saya tidak menampik bahwa sebagian kelompok perempuan memang ada yang tidak nyaman berbaur dengan lawan jenisnya. Jika itu dalih untuk mengadakan gerbong khusus, ya saya rasa itu oke-oke saja. Tapi jika untuk meminimalisasi pelecahan seksual, saya tidak setuju.

Hen Feizi dan Nicolo Machiavelli memiliki pandangan yang mirip bahwa manusia itu cenderung berbuat jahat jika tidak dipaksa untuk berbuat baik.

Solusi yang saya tawarkan adalah solusi yang klasik, yakni penegakan hukum yang tegas kepada para pelanggar.

Sejauh  yang saya lihat, tidak ada sanksi yang memberikan efek jera para pelakunya. Saya hanya sempat melihat di Stasiun Manggarai ada pemajangan foto orang-orang yang melakukan tindak pelecehan di KRL. Tapi saya tidak tahu apakah mereka mendapat sanksi hukum atau tidak.

Inilah masalahnya, mesti ada paksaan untuk "berbuat baik". Ya pelecehan memang terkadang dianggap persoalan yang remah, tapi masalah ini meresahkan sekaligus memalukan. Campur tangan negara perlu untuk mengatasi masalah ini demi terciptanya moda transportasi umum yang aman dan nyaman bagi wargannya.

Selain itu perempuan juga harus punya sikap berani untuk melapor, bukan justru takut dan merasa malu. Hak tiap individu untuk merasan aman dan nyaman di transportasi umum itu dilindunggi hukum dan negara mesti memperjuangkan itu.


Sekian.



Minggu, 21 Mei 2017

Zaman Kita

Arus informasi belakangan semakin tak terbendung. Tak ada bendungan yang cukup kuat untuk menahannya, aturan hukum bahkan tingkat pendidikan pun rupannya tidak. Beberapa hari lalu saya menulis di Line, "perkembangan teknologi informasi dalam masyarakat dengan tingkat literasi yang rendah menghasilkan sebuah kondisi dimana sesuatu yang dianggap sebagai realitas adalah apa yang dirumuskan media. Oleh sebab itu, membenturkannya mudah sekali". Tulisan tersebut adalah bentuk kejengkelan saya dengan dunia yang semakin ribut.

Belakangan kita dibuat mabuk, mabuk informasi. Informasi bergerak begitu cepat, saling tindih, saling tuding, manusia hanyut didalam arusnya. Semua menentang satu sama lain. Tidak tahu siapa yang benar, tidak tahu siapa yang salah, tidak tahu siapa yang tahu segalanya, dan tidak tahu siapa yang tidak tahu apa-apa.

Apakah kemajuan teknologi informasi membawa manusia ke peradaban barunya, sekaligus menunjukkan bahwa di dalam kondisi keberadaban tidak semua sabjeknya belaku beradab?

atau

Apakah kemajuan teknologi informasi membawa manusia menuju keperadaban atau justru kebiadaban?


Sekian.

Minggu, 07 Mei 2017

Princess, Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi


Saya tahu buku ini dari diskusi HMI. Ka Ipul sedikit menyingung buku yang menceritakan kisah putri kerajaan Arab Saudi tapi dia lupa apa judulnya. Setelah mencari-cari di google, akhirnya saya tahu buku itu berjudul Princess. Saya ingin memiliki buku itu, tapi tidak mudah sebab sudah tidak terbitkan lagi. Sekitar dua bulan lalu, kebetulan sekali saya menemukannya di toko buku bekas di samping Stasiun Lenteng Agung. Tanpa pikir panjang Saya langsung membelinya.

Sesuai harapan, buku ini sangat mengesankan. Ini buku kedua yang saya baca yang menceritakan dengan apik tentang kehidupan perempuan di daratan Timur Tenggah setelah buku Perempuan Dari Titik Nol karya Nawal el-Saadawi.

Buku ini menceritakan tentang Sultana yang merupakan putri Kerajaan Saudi. Perlu digarisbawahi bahwa novel ini merupakan kisah nyata namun dengan nama-nama samaran dalam penggambaran kisahnya.

Sultana merupakan anak bungsu dan hampir semua kakaknya perempuan kecuali satu anak laki-laki bernama Faruq. Sebagai anak laki-laki terlebih satu-satunya anak laki-laki, Faruq diperlakukan bak raja cilik. Di negara dengan budaya patriarki yang begitu kuat ini, kelahiran anak laki-laki disambut dengan suka cita sedangkan kelahiran anak perempuan disambut dengan duka cita.

Buku ini menggambarkan kegetiran perempuan-perempuan disana. Di negara penghasil minyak ini, dalam keluarga miskin, kaya, dan terhormat semua keadaan perempuan sama saja, tidak pernah merdeka sebagai manusia.

Perempuan-perempuan itu hidup bergelimpang harta, tapi tidak memiliki kebebasan atas kehendak pribadinya. Hal ini ditentang keras oleh Sultana dan beberapa kawannya, namun pemberontakan mereka membawa petaka. Dua teman Sultana mendapat hukuman dari keluarganya sendiri karena dianggap telah mencoreng kehormatan keluarga. Salah seorang ditenggelamkan sampai meninggal di kolam dengan disaksikan seluruh keluarga, yang satu lagi dikurung di ruangan gelap seumur hidupnya dan akhirnya ia menjadi gila. Hanya Sultana yang tidak menerima hukuman, sebab saat itu dia tidak mengikuti "kenakal" teman-temannya itu.

Buku itu juga menceritakan bagaimana kehidupan laki-laki di sana yang maniak seks. Mereka menikahi banyak perempuan bahkan perempuan-perempuan yang masih anak-anak. Mereka juga mengunjungi banyak negara terutama daratan Asia (Filipina)  untuk "jajan" seks. Mungkin tempat itu seperti Kampung Arab yang ada di Puncak pikir saya. Dosen Perempuan dan Politik saya juga bercerita bahwa TKW yang bekerja di Arab Saudi sebagian besar diperkosa majikannya sebab mereka menganggap para TKW itu sebagai budak.

Diceritakan juga bagaimana kehidupan Keluarga Kerajaan yang sangat mewah. Mereka dengan mudah membangun istana dengan tanah yang luas beserta barang-barang mewah di setiap sudutnya. Mereka tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang, uang mereka melimpah akibat minyak dan bisnis properti. Hal ini dapat dilihat saat kedatangan Raja Salman ke Indonesia. Bagaimana mewahnya penyambutan dan masa liburannya disini. Bahkan saya pusing membayangkan uang yang mereka habiskan untuk semua kemewahan itu.

Sebuah ironi yang mesti kita telan bulat-bulat. Begitu besarnya biaya yang mesti dikeluarkan untuk keluarga yang bertugas menjaga kota suci itu. Kota suci yang sekarang pun sudah dikomersialisasi. Kehidupan umat muslim yang harcur akibat perang tidak menjadi pertimbangan untuk merubah pola hidup keluarga kerajaan agar lebih sederhana.

Saat kedatangan Raja Salman semua orang memuja memuji. Mereka menganggapnya penuh kesucian tanpa dosa. Yang saya lihat hanya keegoisan di wajah mereka. Bagaimana bisa mereka hidup bermewah-mewah ditenggah kehancuran umat muslim saat ini? Ternyata benar bahwa harta benar-benar menggelapkan pandang dan inilah awal keruntuhan.


Sekian.

Kamis, 04 Mei 2017

Mahasiswa IISIP Menggugat: Politik Kampus Hilang Akal


Beberapa tahun belakangan, lini masa Line banjir opini-opini publik dengan berbagai isu. Bingkai politik sosial mendominasi. Kebijakan nasional/lokal, partai politik dan politisi menjadi sasaran empuk hujatan masal. Pengkritiknya siapa lagi kalau bukan mahasiswa.

Memasuki era tanpa senyap, gemuruh retorika semakin tergagap-gagap. Retorika adalah seni berbicara. Semua dibicarakan, kebenaran ataupun kepalsuan. George Orwell berkata, "Hal terburuk yang dapat dikatakan oleh kata-kata terjadi ketika kita membiarkan diri kita takluk kepada kata-kata.

Mahasiswa sebagai kaum yang dianggap berintelektual, tergusur kabut hitam kekuasaan. Mahasiswa mengkritik tajam siapa saja yang bertolak belakang dengan keadilan, kepentingan umum, dan kasih semesta terhadap alam, tapi dia tumpul dalam kritik terhadap prilaku "politisi cilik" kampusnya sendiri. Politisi cilik yang saya maksud bukan para petinggi kampus dan berbagai kebijakaannya, tapi badan-badan kemahasiswaan yang mengecewakan bagi saya. 

Kurang lebih satu bulan BEM kosong kepemimpinan, BPM lebih tidak jelas lagi. Saya mendengar ada kecurangan dalam pemilihan BPM periode lalu. Kabar ini saya dengar dari panitia pemilihan BPM itu sendiri sehingga sulit bagi saya untuk tidak percaya. Mungkin saya bisa "sedikit" memaklumi apabila kecurangan itu tertutupi oleh kinerja yang baik, tapi nyatanya tidak demikian.

Saya tidak akan mengkritisi BEM sebab pemilihan dilakukan secara lebih demokratis dengan persaingan yang terbuka, berbeda dengan BPM yang pemilihannya sangat rawan dengan kecurangan.

Kongres Keluarga Besar Mahasiswa IISIP Jakarta kemarin menghasilakan syarat untuk mencalonkan diri menjadi pengurus BPM dengan pengumpulan minimal 35 KPSM dan IPK minimal 2.00. Syarat mengalami kemunduran sebab sebelumnya IPK minimal adalah 2.50.

Syarat ini tidak mengkualifikasi calon, syarat ini kelewat mudah. Saya tidak mengusulkan adanya syarat yang tinggi, tapi setidaknya syarat standar bagi kami mahasiswa untuk percaya bahwa calon-calon BPM itu adalah orang yang berkualitas baik secara akademik dan nonakademik.

Dalih penetapan IPK minimal 2.00, bahwa "IPK tinggi tidak menjamin seseorang mampu mengurus organisasi", memangnya IPK yang rendah menjamin anda mampu mengurus organisasi? Atau karena orang-orang yang berkecimpung di dalam organisasi IPK nya rendah-rendah?

Lalu sekarang lahirlah problem, dasar mahasiswa percaya bahwa Anda (calon anggota BPM) "berkualitas" itu dengan apa?

Belum lagi persekongkolah dalam memilih ketua BPM yang tidak kalah busuknya. Lantas bagaimana kami sebagai mahasiswa mempercayai anda-anda sebagai dewan perwakilan kami?

Organisasi eksternal menambah semarak perebuatan kursi kekuasaan kampus. Sayangnya bukan kualitas yang mereka munculkan tapi strategi licik.

Jika pendidikan kampus mengajarkan moralitas politik, mengapa kalian memprektakkan politik amoral? Jika kalian tahu mana yang baik, mengapa kalian memilih yang buruk? Jika kalian tahu memakai kacamata hitam akan menggelapkan pandang, mengapa kalian masih menggunakannya?

Disaat semua kampus berlomba menjadi paling hebat, mengapa kita tetap terbelenggu standar yang tidak menggugah hasrat? Kampus IISIP hari ini semacam kehiangan keintelektualannya, kehilangan akal.

Tabiat buruk tidak mengenal waktu, ia membelenggu kapan pun, siapa pun, dan kelas sosial mana pun.  Fenomena hari ini, kampus IISIP Jakarta mencetak calon sarjana licik bukan calon sarjana terdidik. Anda yang mengenyam bangku kuliah, tidak otomatis memiliki intelektualitas. Jikalau Anda tidak mahami esensi pendidikan, anda hanya mesin uang yang menggerakan industri pendidikan.


Sekian.

Senin, 01 Mei 2017

Mereka menyebutnya Kampus Tercinta


Saya teringat pertanyaan Wahyu Adji, "'kenapa sih namanya kampus tercinta?". Pertanyaan ini dilontarkan lewat ask.fm sekitar dua tahun yang lalu. Saat itu jawaban saya sederhana sekali, "sebab nama yayasannya memang itu".

Saya sempat mendengar desas-desus alasan mengapa kampus ini dinamakan kampus tercinta. Ada dua alasan yang saya ketahui, pertama karena katanya banyak yang menemukan jodoh di kampus ini. Kedua, karena ada bangunan di kampus yang dibangun lewat patungan mahasiswa. Tapi entahalah mana diantara dua alasan ini yang benar.

Minggu lalu dosen Perempuan dan Politik saya bercerita tentang IISIP. Cerita yang sudah usang yg tidak akan ditemukan lagi di IISIP saat ini.

Bu Eni merupakan dosen yang sudah cukup lama mengajar di IISIP. Jalas dia bukan dosen muda. Dia mulai mengajar sejak masa kepemimpinan rektor pertama atau kedua (dia sendiri pun lupa). Intinya sudah cukup lama dan banyak romansa yang ia lalui di kampus tercinta.

Di IISIP terdapat ruang makan dosen yang biasa digunakan untuk makan siang. Dulu ruang makan ini merupakan tempat pertemuan rutin bagi para dosen. Saat memasuki waktu makan siang bel dibunyikan, pertanda mereka harus segera bergegas ke ruang makan sebab makan siang bersama merupakan ritual yang tidak boleh dilewatkan. Saat-saat itu adalah ajang silaturahmi bagi tenaga pengajar dan agar dapat saling mengenal satu sama lain.

Lalu setiap tahun ketika memperingati hari kelahiran kampus tercinta, para dosen terutama dosen perempuan menginap dan memasak di kampus. Mereka memasak dalam porsi besar dan hasil masakan mereka akan dinikmati oleh para mahasiswa. Sehari dalam setahun dosen akan menjadi pelayan bagi mahasiswa. Hal ini menjadikan hubungan dosen dan mahasiswa menjadi sangat dekat dan tentu hal ini tidak akan lagi ditemukan saat ini.

Terakhir soal rektor yang sangat peduli dengan keberlangsungan kehidupan kampusnya. Dulu banyak dosen muda yang berasal dari luar pulau jawa. Tentu keberadaan keluarganya cukup jauh. Ketika dosen muda itu hendak melamar kekasihnya, rektor bersedia menjadi wali yang mewakilkan keluarga untuk melamar. Lalu ketika mereka menikah, mereka mengadakan resepsi di aula kampus (V-II) dan yang mengurusi perihal itu semua adalah para pegawai dan dosen di kampus tercinta ini.  Saya membayangkan sebegitu dekatnya hubungan mereka saat itu. Benar-benar seperti keluarga dan sewajarnya keluarga, mereka penuh cinta.

Mungkin ini alasan mengapa kampus ini dinamakan kampus tercinta. Ia lahir dan dibesarkan memang dengan cinta. Hmm agak alay sih kedengarannya, tapi memang nyatanya begitu

Ya sejelek-jeleknya kampus ini sekarang, setidaknya dia pernah hidup di masa lalu.

Sekian.

Minggu, 30 April 2017

Batal Tutup Blog!!!


Dari judul sudah jelas bahwa saya batal untuk berhenti mengisi blog ini! Saya akui, saya plinplan! Hahaaa

Hari ini Saya rapat bersama tim redaksi Majalah Forum Anak (Malfora) untuk persiapan majalah edisi ke 5. Biasanya Kami rapat di Kementrian PPPA, namun hari ini agak berbeda. Kami rapat di rumah salah seorang tim redaksi Majalah Bobo, Dia Ka Erna.

Rapat berjalan seperti biasa, banyak serius dan banyak juga cengegesannya. Intinya, diakhir rapat saya mendapat semangat baru untuk melanjutkan menulis, lebih tepatnya menulis di blog ini.

Apa yang membuat saya berubah pikiran?

Karena saya suka menuangkan pikiran lewat tulisan dan saya senang jika orang lain membaca tulisan saya, ya walaupun saya sadar tulisan saya nggak bagus dan kayaknya juga gak menarik hahaa. Setidaknya karna saya diharuskan menulis sesuatu, ritme membaca saya dapat terjaga.

Ya pokoknya saya ucapkan selamat datang kembali.

Sekian.

Kamis, 20 April 2017

Akhir yang menjadi awal


Belakangan saya sudah tidak lagi aktif memposting tulisan di blog ini. Alasannya bukan karena saya kehabisan ide tapi karena saya tidak yakin akan tetap menjalankan blog ini. Saya serasa kehilangan sesuatu di dalam budaya yang penuh dengan teknologi ini. Kemudahan mengomentari sesuatu yang oleh Karlina supelli disebut sebagai "budaya komentar". Semua orang seolah tenggelam dalam hiruk pikuk perdebatan tanpa batas.

Saya belum bisa sepenuhnya lepas dengan dunia online, tapi ada batasan yang mesti saya buat dan patuhi. Ini bermaksud untuk memproteksi diri dan tetap menjaga prinsip dalam hidup saya.

Perlahan saya mulai mengurangi "berkomentar" dan lebih banyak membaca. ini akhir sekaligus menjadi awal dari pilihan hidup saya yang memasuki usia 20 tahun.  Akhir dari blog ini bukan berarti saya berhenti menulis. Sebagian orang harus tetap menulis untuk tetap waras. Hanya saja sekarang tulisan dan gagasan  bukan lagi untuk konsumsi publik tapi hanya untuk kalangan terbatas.

Akhirnya saya harus mengucapkan salam perpisahan. Terimakasih kepada pembaca setia blog saya yang meski jumlahnya tidak banyak tapi kalian berkesan bagi saya.

Salam.

Minggu, 26 Maret 2017

Kartu Identitas


http://thefilosofi.blogspot.co.id/2016/04/101-falsafah-kejawen-ajaran-mencapai.html
Tulisan itu tentang obrolan saya dengan dosen hari Kamis lalu. Tentang hanya diakuinya 6 agama di Indonesia.

Selepas kelas, saya menanyakan persoalan ini kepada Pak Mus, "mengapa hanya diakui 6 agama? Mengapa kepercayaan lokal seperti kejawen dan wiwitan tidak diakui? Bukankah kepercayaan asli moyang Indonesia adalah kepercayaan tersebut?"

Inti dari jawaban Pak Mus tidak memuaskan saya. Masalah pengakuan itu hanya seputar otoritas negara yang mesti menyediakan "keperluan" peribadatan tiap agama/kepercayaan, sedangkan kepercayaan lokal yang ada di Indonesia jumlahnya cukup banyak, tentu ini akan "merepotkan".

Dan katanya pula, 6 agama yang diakui saat ini memiliki konsep ketuhanan dan kitab suci yang jelas, berbeda dengan kepercayaan lokal yang ada di Indonesia. Kepercayaan itu hanya sebatas ritual. Mungkin itu pula yang menyebabkan mereka disebut "kepercayaan" bukan "agama".

Saat ini pun negara tidak menolak kepercayaan-kepercayaan tersebut, bahkan sebagian dari kepercayaan itu telah berbaur masuk ke dalam 6 agama resmi yang diakui negara. Misalnya Islam kejawen, agama islam namun memiliki unsur kejawen yang kuat. Agama seperti itulah yang diwariskan keluarga ibu saya kepada saya, ya walaupun saya tidak sekalipun mengikuti ritual kepercayaan ini.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak masuk kedalam 6 agama ini?

Bagaimana mengisi kolom agama dalam KTP (kartu identitas)?

Untuk gambaran kasus ini saya punya cerita dari teman saya, Ibu Retno.

Ibu Retno atau biasanya kami memanggilnya Bunda, merupakan teman sekelas saya waktu awal masuk kuliah. Saya cukup akrab dengan beliau, hingga suatu ketika saya mengadd facebooknya.

Dari facebook Bunda saya mengetahui bahwa ia aktif di sebuah organisasi. Tapi saya tidak tahu itu organisasi apa. Saya kira itu organisasi keagamaan, namun tidak tertera satupun agama di dalam setiap kegiatannya. Saya hanya tahu lewat kolom komentarnya bahwa mereka mengucapkan salam dengan kata-kata "Rahayu".

Saat saya berbincang dengan Pak Mus, ia ternyata juga mengenal Bunda. Pak Mus menceritakan sedikit mengenai Bunda karna terkait dengan pertanyaan saya. Bunda tidak mau mengisi kolom agama dalam KTPnya, karna kepercayaannya tidak termasuk dalam 6 agama tersebut. Ya saya rasa organisasi yang diikuti Bunda ada kaitannya dengan kepercayaannya itu.

Saya pikir ini hal yang menarik

Saat seseorang memiliki keyakinan diluar dari ketetapan negara, bagaimanakah nasip kartu identitasnya?

Kita berandai-andai, bisa saja orang itu menuliskan kolom agamannya secara asal-asalan, atau bahkan mengosongkanya sekalipun. Tapi saya rasa itu bukan pilihan baik.

Jika seseorang memilih untuk mengisi asal-asalan atau mengosongkan kolom agamanya, saya rasa itu hanya akan menghasilkan sebuah kartu tanpa nilai. Kartu identitas hanya perkara administrasi tapi tidak menunjukan identitas pemiliknya. Kartu itu bisa disebut "kartu identitas" namun secara intrinsik tidak mengandung identitas atau memiliki kekosongan identitas.

Solusinya?

Hmm saya belum bisa menawarkan solusi yang Oke Oce untuk masalah ini. Saya hanya berpendapat bahwa kolom agama dalam kartu identitas harus ditulis sesuai dengan identitas pemiliknya. Pendapat saya ini tidak mempertimbangkan masalah regulasi negara dan sebagainya.

Memaksakan berbaurnya kepercayaan setempat dengan agama yang diakui negara saya rasa itu bentuk kemunafikan. Sedangkan memalsukan identitas diri dalam kartu identitas resmi negara adalah kejahatan. Dan mengosongkan kolom agama dalam kartu identitas bukan sebuah pilihan.

Yakinilah apa yang kamu yakini.

Sekian.

Kamis, 09 Maret 2017

Puskesmas Kebon Jeruk

Belakangan ini mata saya agak bermasalah, mungkin minus atau silinder. Saya memutuskan untuk mengecek kondisi mata saya di Puskesmas Kebon Jeruk. Puskesmas Kebon Jeruk berada di jantung Kecamatan Kebon Jeruk sebab semua fasilitas umum berada di kawasan ini. 

Polsek dan Kantor Kecamatan Kebon Jeruk
Saya memilih puskesmas tersebut karena membaca blog ini  http://ron-motz.blogspot.co.id/2009/08/pengalaman-berobat-ke-puskesmas-kebon.html

Kenapa tidak mengecek ke optik?

Karena saya selalu mikir optik itu jualan kacamata bukan dokter mata. Ya sebenarnya ini cuma saya yang terlalu parno aja sih hehee

Ini bukan pertama kalinya saya ke puskesmas Kebon Jeruk. Sekitar dua tahun yang lalu saya juga kesini untuk meminta surat keterangan sehat sebagai prasyarat kegiatan yang akan saya ikuti. Tapi meskipun sudah pernah kesini tetap saja saya bingung.

Di depan pintu masuk puskesmas berdiri satpam yang siaga membantu pengunjung. Saya ditanya mau berobat apa, saya jawab "mau ngecek mata Pak". Tapi ternyata poli mata sudah tidak ada dan saya disarankan untuk menuju ke poli umum. Berhubung saya nggak paham sama masalah beginian, akhirnya saya ngikutin kata si Bapak saja.

Struk Pembayaran, cuma 2000!!!
Setelah membayar di loket dan mengantri giliran untuk bagian poli umum, ternyata disini sama sekali tidak bisa perikasa mata. Yah kecewa deh gue....

Gak kecewa banget sih sebenarnya. Saya sempat mengobrol dengan tenaga medis yang mengecek tensi darah saya. Dia bilang katanya dulu memang ada poli mata dll (saya lupa apa aja), tapi sudah ditutup.

Katanya hal itu dikarenakan Puskesmas Kebon Jeruk sering dianggap rumah sakit, karena fasilitas kesehatannya yang bisa dibilang cukup lengkap dan kualitasnya sebanding dengan rumah sakit. Oleh karena itu beberapa poli akhirnya ditutup oleh dinas atau apalah, saya kurang tau untuk kewenangan ini.

Terus mendadak saya bingung.....

Emang apa salahnya kalo puskesmas punya fasilitas kesehatan yg lengkap? Bukannya bagus? Dari segi harga pun puskesmas jauh lebih menjangkau semua lapisan masyarakat bukan? Kok ya fasilitas yg udah baik malah dikurangin. Heran.

Sebenarnya pihak Puskesmas sudah mengajukan diri untuk menjadi Rumah Sakit Umum Kecamatan (RSUK) tapi katanya belum disetujui karena lahan parkir yang terbatas. Lah lah lah..... Masa gitu????? Alasan yang agak konyol sih buat saya.

Saya sempat berkeliling sebentar untuk mengambil beberapa gambar kondisi puskesmas 3 lantai ini.

loket pembayaran



Poli Manula di lantai 1


disediakan kursi roda bagi para pasien


Walaupun saya batal periksa mata, tapi jalan-jalan kecil hari ini ternyata cukup menyenangkan juga. Semoga saja semua puskesmas yanga ada di Indonesia dapat sebaik ini.

Sekian. 

website puskesmas kebon jeruk : http://www.puskesmaskebonjeruk.com/

Sabtu, 04 Maret 2017

Pangan


http://tabloidjubi.com/img_berita/53nusa-2-kiri_sawah.jpg
Hari ini saya mulai masuk kelas Sistem Poitik Asia Tenggara. Mata kuliah Sistem Politik Asia Tenggara tak ubahnya mata kuliah politik lain yang sering kali bahasannya menjadi ngalor-ngidul. Bahasan kali ini sedikit menyinggung masalah pangan dan mobil Esemka, tapi untuk tulisan saya hanya akan membahas tentang masalah pangan.

Tulisan ini banyak mencakup opini pribadi saya jadi untuk para pembaca tidak usah diambil pusing, toh ini hanya opini.

Pak Banu menanyakan, mengapa saat ini Indonesia tidak bisa swasembada pangan seperti masa Orde Baru? Mengapa indonesia lebih memilih impor dalam hal pangan?

Dengan ilmu sotoy saya pun menjawab, "karna ada anggapan bahwa impor lebih murah daripada memproduksi sendiri". Nampaknya jawaban saya ini tidak salah, meskipun tidak sepenuhnya benar pula.

Berbicara soal pangan mengingatkan saya dengan iklan di Metro TV beberapa tahun lalu. Iklan itu menunjukkan gambar tumpeng beserta lauk pauk dipinggirnya. Tampilan tumpeng seperti biasa, hanya saja tiap bagian tumpeng ditandai dengan bendera kecil yang bertuliskan "impor". Iklan itu sarkastik sekali, tapi oke juga lah ya.

Mengapa saat ini Indonesia tidak bisa swasembada pangan?

Pertanyaan ini mengusik pikiran saya, sungguh. Masihkah kail dan jalan cukup menghidupi? Masih bisakah kah tongkat kayu dan batu jadi tanaman? Dan masih pantaskah tanah ini disebut tanah surga seperti yang dikatakan Koes Plus?

Memangnya memilih menjadi negara agraris itu menjadi sebuah keterbelakangan?

Saya tidak pernah paham mengapa banyak negara berlomba-lomba mendapatkan titel "negara maju", dengan berbagai indikator yang mesti dipenuhi. Indikator yang membuat warga negaranya berjuang sampai hampir mampus. Memangnya pengakuan sebagai negara maju itu penting?

Mengapa menggunakan parameter negara lain sebagai acuan kemajuan suatu bangsa?
Mengutamakan ekonomi dan kemajuan tekonologi yang jelas-jelas sebaik apapun kita mengikuti konsep mereka, kita akan selalu tertinggal satu langkah di belakang mereka.

Mengapa menjadi negara agraris tidak menjadi sebuah kebanggan?

Bukankah semua orang butuh makan?

Indonesia sebagai negara agraris yang saya pelajari saat SD semakin menjauh dan menjadi negara industri atau apalah namanya. Intinya saya tidak suka dengan konsep kekinian ini.

Impor pangan.

Dua kata itu adalah hal konyol bagi saya. Impor pangan di negara yang begitu subur ini?

Berbicara mengenai kultur pangan masyarakat Asia Tenggara, dalam bukunya  Anthony Reid menjelaskan bahwa kegagalan pangan atau padi-padian tidak pernah menimbulkan akibat parah seperti yang dialami oleh negeri yang lebih maju tapi tidak menentu ketersediaan pangannya. Kecuali sebagai akibat perang, kelaparan tampaknya tidak pernah memusnahkan penduduk Asia Tenggara seperti yang menimpa penduduk Cina dan India pada kurun waktu yang sama.

Secara historis kita bisa melihat bahwa tanah di gugusan Asia Tenggara ini begitu melimpah akan pangan. Terdapat alternatif lain dalam pemenuhan gizi termasuk soal makanan pokok.

Lalu mengapa kita mesti impor?

Bukankan kita punya kampus IPB sebagai pencetak para sarjana pertanian, kemana perginya mereka? Ke bank? Ehe....

Impor pangan bukan sebuah solusi untuk mempertahankan ketahanan pangan bangsa ini. Jika negara mengnginginkan masyarakatnya menjadi individu yang konsumtif, silahkan bangun mall. Tapi jika ingin bangsanya menjadi produktif maka cetaklah persawahan dan perkebunan rakyat.

Disini saya tidak mempertimbangkan faktor ekonomi , regulasi atau bahkan perjanjian internasional. Saya hanya memiliki anggapan bahwa kita berasal dari hulu yang berbeda dengan mereka, lantas mengapa kita harus mengikuti arus bangsa mereka?

Bergantung dengan impor pangan sama saja seperti ayam yang mati di lumbung padi. Meski pun belum sepenuhnya mati, yg jelas ia sekarat.

Sekian.

Refrensi :
Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Waktu Niaga 1450-1680, jilid 1: Tanah di Bawah Angin

Jumat, 24 Februari 2017

Pak Mus


http://keywordsuggest.org/gallery/552121.html
Semester ini saya mengambil mata kuliah Masyarakan Asia Tenggara. Teman sekelas kebanyakan junior saya , karena teman-teman seangkatan saya sudah mengambil mata kuliah ini di semester 2. Sebagian dari  mereka sudah ada yang saya kenal, bahkan seorang dari mereka memanggil saya "Kak Cans" alias kakak cantik wkwkwkkw, agak lebay ye.... Tapi secara keseluruhan mereka asik lah ya.

Biasanya mata kuliah ini diajar Pak Daryani, namun semester ini diajar oleh Pak Mustofa. Kata senior sih Pak Mustofa kader PKS dan anti Ahok, tapi ini katanya loh ya! Saya tidak tahu banyak soal dosen ini karena baru kali ini saya diajar oleh beliau.  Pak Mustofa atau biasa dipanggil Pak Mus lulusan Ilmu Politik UIN lalu melanjutkan studinya di sebuah Universitas di Malaysia.

Di minggu pertama ini belum banyak materi yang dibahas, hanya berbincang seputar pengantar mata kuliah. Pengantar yang cukup menarik tentang diaspora masyarakat China di kawasan Asia Tenggara. Sebuah singgungan yang cukup halus tentang mulai masuknya Etnis Tionghoa dalam pemerintahan Indonesia. Ya secara tidak langsung pasti ini soal Ahok Ahok lagi, tapi Pak Mus menggambarkan ini dalam bentuk lebih luas dan tidak menjustifikasi satu orang.

Ketertarikan saya dimulai saat membahas Malaysia.

Sebuah peraturan tentang pembatasan hak Etnis Non-pribumi yang tidak boleh berkecimpung dalam pemerintahan. Lalu kebijakan New Economic Policy (NEP) yang dikatakan terlalu berpihak kepada Etnis Melayu. Saya perlu mempelajari lebih banyak karna saya belum terlalu yakin dengan dua kalimat tersebut.


Dari berbagai sumber yang saya baca saya menangkap beberapa hal,

Pertama, dominasi etnis Tionghoa dalam Ekonomi yang dikatakan Etnis melayu  terlalu "serakah"
Kedua, kalah saingnya Etnis Melayu (pribumi) dengan etnis Non-Pribumi
Ketiga, ketakutan dominasi Etnis Non Pribumi terhadap kehidupan di Malaysia
Keempat, adanya stereotip negatir antar etnis tersebut

Gabungan dari tiga domain Ekonomi - Antropologi - Sejarah saya rasa menjadi kesatuan maut untuk mengupas masalah ini. Tapi berhubung studi saya tentang ilmu politik, dosen saya menarik sedikit garis untuk meninjau hal tersebut dalam sudut pandang politik.

Ini tentang kedaulatan.

Selama ini kita tahu bahwa Etnis Tionghoa selalu gagah dalam bidang ekonomi. Deretan orang terkaya pun banyak dari kelompok mereka. Etnis Melayu di Malaysia sudah lama kalah dalam persaingan ekonomi di negerinya. Jika membiarkan Etnis Non Pribumi  memasuki pemerintahan, lalu dimana letak kedaulatan bagi negaranya atau bagi penduduk aslinya? Oleh sebab itu disana terdapat sebuah hak khusus yang diberikan kepada masyarakat pribumi untuk memerintah negara.

Hal ini dihubungkan Pak Mus dengan keadaan Jakarta sekarang. Saya rasa ini salah satu alasan yang menyebabkan secara subjektif Pak Mus ogah memilih Ahok terlepas keberpihakan politiknya.

Saat sebuah wilayah kekuasaan dipimpin oleh seseorang di luar etnis masyarakat aslinya, apakah mereka akan kehilangan kedaulatannya?

Sejujurnya saya tidak menagkap maksud dari hak khusus Etnis Melayu di Malaysia. Saya semacam gagal paham.

Masalahnya seseorang tidak dapat memilih lahir dalam kelompok etnis tertentu, lalu mengapa setelah dia hidup dia dibatasi atas dasar etnis yang melatarbelakangi dirinya?

Saya melihat bahwa masyarakat melayu dalam hal ini memiliki ketakutan yang besar akan keberadaan Etnis Tionghoa. Ketakutan yang tidak dilawan dengan kekuatan yang menyeimbangi namun dengan pemberian hak khusus. Mereka dianggap semacam penjajah kecil yang masih tertinggal setelah kemerdekaan. 

Hal ini tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Masalah rasial selalu saja terjadi. Pikir saya semua ini bukan sekedar masalah kulit putih dan mata sipit, tapi lebih jauh soal ekonomi dan warisan mental pasca kolonial.

Kita tahu bahwa kedudukan masyarakat Non Pribumi lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat Pribumi saat penjajahan dulu. Aktifitas ekonomi mereka juga lebih baik karena ditopang oleh perdagangan. Ketimpangan ekonomi ini pasti memicu cemburu sosia dan inilah yang diwariskan hingga sekarang. Kebencian antar etnis ini bukan baru belakangan ini terjadi, tapi bibit kebencian itu sudah ditanam ratusan tahun lamanya. Jadi tidak perlu heran.

Yang saya tidak paham sampai saat ini, Mengapa seseorang senang sekali menyimpan benci dan luka masa lalu? Mengapa masih membiarkan diri terbelenggu dengan mental terjajah?


Sekian.

Minggu, 12 Februari 2017

Lacur


Kini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum, kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang

Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman

Apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya
Apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyabung nyawa

Ini sepengal lagu Kupu-Kupu Malam ciptaan Titiek Puspa. Lagu yang cocok menjadi pembuka dalam tulisan kali ini.

Beberapa hari lalu saya baru saja menamatkan sebuah novel berjudul Re:, karya Maman Suherman. Saat itu Herman masih menjadi mahasiswa Kriminologi Universitas Indonesia. Novel ini kisah nyata dari proses penulisan skripsi Herman yang mengangkat kasus pelacuran, dengan Re sebagai narahubungnya. 

Re; berlatar belakang tahun 1989, namun setelah 25 tahun kemudian menurut Heran tidak banyak yg berubah. Hanya bentuk dan kemasannya yg berubah, tapi esensi dan isi masalahnya tetap sama.

Novel ini diawali dengan cerita Sinta (teman Re) yang dibunuh. Lalu Herman semakin masuk kedalam dunia pelacuran yang selama ini tidak pernah ia bayangkan. Dari berbagai temuan lapangan, Herman membuat klasifikasi menurut jenis kelamin. Menurutnya, di Jakarta dan berbagai kota besar lainnya yang berkembang bukan hanya pelacur perempuan tapi juga laki-laki bahkan banci. Jadi selain Wanita Tuna Susila (WTS), seharusnya ada juga istilah Lelaki Tuna Susila (LTS ) dan Banci Tuna Susila (BTS).

Ketika saya membaca buku ini, saya jadi ingat Wandi/Winda yang pernah saya ceritakan di sini https://apreliaa.blogspot.co.id/2016/10/sebut-saja-dia-wandi-dan-winda.html . Ya saya tahu bahwa Wandi/Winda bukan hanya ngamen sebagai banci, namun juga sebagai Banci Tuna Susila (BTS) seperti yang diklasifikasikan Heran.

Selain hasil temuan Herman yang kelak dimasukkan ke dalam skripsinya, novel ini lebih banyak menyajikan kehidupan Re;. Berbagai hal yang Herman ceritakan merupakan kisahnya dari awal bertemu Re hingga Ia menjadi supir Re bahkan sampai Re meninggal (dibunuh).

Sebuah kalimat pilu terucap dari mulut Re sesaat setelah menceritakan kecurigaan atas kematian Sinta, " lonte itu sepertinya saja hidup karena masih bernapas, padahal sudah mati. Sering dianggap bukan manusia. Kalau sudah tidak diperlukan, dibuang begitu saja. Dikejar-kejar seperti coro. Diinjak-injak sampai nggak berbentuk!"

Cukup segitu saya menceritakan tentang buku ini, saya pikir lebih baik kalian membacanya langsung.


Kemarin saya bertemu Ebi, yang saat ini menjadi salah satu mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta. Dia bercerita kepada saya bahwa saat ujian kemarin dia disuruh menggambar anatomi tubuh perempuan.

Saat itu pula di dalam kelas dihadirkan seorang perempuan dengan keadaan hampir telanjang. Hanya bagaian kelaminnya saja yang tertutup bahan. Teman saya itu tercengang dengan ujiannya kali ini. Dia bilang bahwa perempuan itu dijadikan objek gambar selama 45 menit dengan bayaran hanya 750.000!!!! Ini gila pikir saya!

Atau cerita dari Bu Risma (Walikota Surabaya) yang pernah berdialog dengan warganya di kawasan Dolly. Dalam sebuah liputan Ibu Risma bercerita bahwa ia pernah bertemu dengan seorang nenek-nenek yang masih menjadi pekerja seks.

Saat ditanya Bu Risma "diusia setua ini pelanggannya siapa?"
Nenek itu menjawab, "ada bu, biasanya anak-anak".
"memannya mereka bayar berapa?"
"dibayar dua ribu juga saya terima Bu.

Ibu Risma menitihkan air mata seketika. Saya kira kalau saya secara langsung mendengar cerita dari nenek itu saya juga bakalan nangis termehek-mehek. Ini sangat miris.

 Meski sudah banyak mendengar cerita seperti ini, saya masih selalu tercengang. Saya sering berpikir tentang kehormatan perempuan. Dari cara berbicara, berpakaian, bahkan tingkah lakunya. Tapi semakin saya masuk ke dalam kisah-kisah itu, saya semakin paham bahwa nyatanya kehormatan hanya omong kosong bagi mereka yang "bingung" bagaimana caranya agar besok mulutnya tetap tersumpal makanan.

Benar kata Titiek Puspa, yang mereka tahu hanyalah bagaimana menyambung nyawa.


Mengutip sebuah pesan dari novel Re:

Pernah kutanya,
Adakah surga untuk Re yang bergelimpang dosa?
Jawabmu, semua orang berkalung salah dan dosa
Tak ada yang bisa jangkau surga,
Kecuali karna ampunanNya
Re:, katamu, Tuhan bagi siapa saja!

Man,
Kalau mau ikut surgakan aku,
Tuntaskan skripsimu
Tulis apa adanya, kabarkan tentangku
Dan tentang duniaku


Sekian.

Sabtu, 28 Januari 2017

Tiara dan Fabian


sumber: http://www.rotoscopers.com/2014/05/06/how-the-married-life-opener-elevates-up-to-animations-greatest-heights/
Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini masih belum bisa tidur. Iseng saya nonton tv, sebuah FTV di SCTV yang entah judulnya apa. FTV tengah malem begini sering kali bagus, mangkanya saya memilih menghabiskan sebagian waktu malam saya untuk menyimak kisah cinta-cintaan ala anak muda ini.

FTV ini mengambil latar tepat di Bali. Saya tidak kenal siapa pemainnya, yang jelas mereka sudah seringkali seliweran di berbagai FTV. Akting dari kedua pemeran utama biasa aja. Tampilan gambar FTV keseluruhan juga biasa. Tapi jalan ceritanya mengena ke perasaan saya. Cerita yang sederhana sebenarnya tapi menyentuh. Mungkin karna ceritannya memiliki kemiripan dengan kisah cinta saya dulu heheeeee

Tiara, untuk ketiga kainya kabur di hari pernikahaannya. Dia tidak yakin dengan setiap laki-laki karena trauma akibat perceraian kedua orang tuannya. Dia kabur dan bertemu Fabian. Lelaki yang meninggalkan tunanggannya karna diramal akan segera mati.

Mereka makan bersama lalu bercerita tentang apa yang mereka alami. Mereka tertawa menumpahkan semua kekonyolan kisah mereka.

Malam ini adalah tanggal dimana Fabian diramalkan akan mati dan ramalan itu terbukti salah.  Malam ini Fabian dan Tiara menghabiskan malam di sepanjang pantai, ditemani deburan ombak dan hanggatnya api unggun. Fabian mulai mencintai tiara, entah rasa itu mucul dari mana. Tiara tidak percaya. Tiara selalu saja ragu dengan laki-laki yang berkata mencintainya. Tapi benih cinta untuk Fabian ada di diri Tiara.

Esok pagi mereka berpisah. Besok sorenya mereka janjian untuk bertemu di Tanah Lot. Sebelum berpisah Tiara menitipkan sebuah catatan untuk Fabian. Catatan-catatan kecil yang ditulis di balik struk pembayaran.

Catatan pertama berisi keraguan Tiara dengan cintanya. Yang diakhir catatan tertulis "jika ini cinta, katakan aku mencintainya"

Lalu catatan kedua, "walau tidak sampai 24 jam tetap saja namanya cinta".

Sambil berjalan menjauh dari Fabian, Tiara berpikir tentang keraguannya. Cinta memang selalu penuh  keraguan, kalau tidak ragu itu bukan cinta.

Naas setelah perpisahan itu Tiara tertabrak mobil dan harus kehilangan sebelah kakinya. Esoknya ia tidak bisa menemui Fabian di Tanah Lot. Fabian menunggu dengan penuh kekecewaan sembari memegangi kotak cincin yang akan diberikan untuk Tiara.

Waktu terus berlalu, tanpa ada kabar dari keduannya.

Fabian kini menjadi penyanyi, Tiara melihat Fabian di tv. Tiara mengirimkan jam pasir kepada Fabian. Jam pasir memiliki kenangan bagi mereka. Mengingatkan waktu ramalan kematian Fabian. Mengingatkan kata-kata Fabian yang akan mencintai Tiara hingga 2070.

Selang waktu berlalu, Fabian menemukan Tiara. Dengan keadaan Tiara yang kini tidak sempurna, janji cinta Fabian masih tetap sama. Mencintai Tiara untuk waktu yang sangat lama.

Ya memang benar, walau tidak sampai 24 jam tetap saja itu namanya cinta. Jangan pertanyakan seberapa cepat dia datang, cukup rasakkan seberapa lama ia akan bertahan.

FTV ini semakin ciamik dengan latar belakan musik dari Naff berjudul Akhirnya Ku Menemukanmu

Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini mulai meragu
Ku berharap engkaulah jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku mencintaimu hingga ujung usiaku

Bila nanti ku sanding dirimu, miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau disampigku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku

Intinya FTV ini bikin saya baper tengah malem!

Sekian.

Jumat, 27 Januari 2017

Istirahatlah Kata-Kata


Istirahatlah kata-kata, sebuh film yang menceritakan masa pelarian Wiji Thukul di Pontianak. Keresahan, ketakutan dan kerinduan sangat kental dalam setiap adegan. Bagi saya yang awam tentang perfilman, saya rasa film ini cukup sempurna. Penonton bisa dibawa hanyut kedalam kehidupan Wiji Thukul. Hanyut dalam kerinduan Sipon kepada suaminya. Hanyut dalam kerinduan Fitri akan bapaknya dan hanyut dalam nyanyian getir Fajar di akhir filmnya,

seumpama bunga, kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh.........".

Sejujurnya saya lebih menikmati adegan-adegan Sipon yang penuh kegelisahan dan kecemasan, hal yang jarang diulik dalam buku-buku hilangnya Thukul. Terlebih di akhir film saat adegan Sipon dianggap lonte oleh tentangganya. Dengan isak tangis dia berkata kepada Thukul,

Aku tidak ingin kamu pergi
Aku juga tidak ingin kamu pulang
Aku hanya ingin kamu ada

Sungguh ini adegan luar biasa, mengguras emosi secara visual dan makin lengkap dengan kata-kata penuh makna.

Selama empat hari pemutaran film Istirahatlah kata-kata, saya memantau komentar orang-orang. Di facebook saya yang kebetulan banyak orang-orang yang bergelut dengan dunia pergerakan, film ini mempunyai kesan yang baik. Seperti yang saya bilang tadi bahwa film ini mampu membawa penonton hanyut ke dalam kehidupan Wiji Thukul. Mereka puas dengan film ini.

Film ini akan sangat berkesan bagi mereka yang mengenal atau setidaknya tahu siapa Wiji Thukul. Tapi bagi yang belum tahu saya rasa mereka tidak akan puas dan bertanya-tanya, mengapa bisa begini, mengapa bisa begitu.

Tapi bagi saya yang lahir setelah runtuhnya orde baru, ada ruang kosong yang tidak dapat diisi dalam menikmati film ini.  Mengenal sosok Wiji Thukul lewat buku saja tidaklah cukup untuk merasakan "roh" dari film ini. Saya tidak bisa menikmati secara penuh kegelisahan Thukul dalam masa pelarian, karena kami tidak pernah merasakan hidup dimasa penuh ketakutan itu.

Selasa lalu saya kembali menonton Film istirahatlah kata-kata. Untuk yang kedua kali ini, makna dan rasa dari film tersebut semakin mendalam. Tapi tetap saja ruang kosong itu tidak dapat terisi.

Selepas itu, diadakan sebuah acara yang dinamakan Ngamen Puisi. Puisi-puisi Wiji Thukul dibacakan, bahkan puisi siapapun boleh dibacakan dalam panggung ini. Semua penuh antusias. Penampilan paling berkesan tentu dari kedua anak Thukul, Fitri dan Fajar. Pembacaan puisi oleh Fitri yang diiringi alunan lagu oleh Fajar. Mata mereka berbinar, penampilan yang menguras emosi dan sangat ciamik.

Terlepas dari semua yang nampak, ada sesuatu mengusik jiwa. Masihkah Wiji Thukul ada?


Sekian.

Kamis, 19 Januari 2017

Opera Indonesia, Presiden Broto Dimas

Opera Indonesia. Buku yang secara visual tidak cukup menarik. Disain sampul yang saya rasa "biasa banget". Ditulis oleh seorang anggota DPR periode 2004-2009 bernama Joko Santoso HP.

Satu-satunya alasan saya beli buku ini karena ada komentar dari Eep Saefulloh Fatah di cover belakang. Eep Saefulloh Fatah yang kumpulan tulisannya telah diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul Mencintai Indonesia dengan Amal. Didalamnya termuat banyak kalimat "cantik"

Salah satunya,

Newmont tengah bersiap menambang, menambang dan menambang untuk akhirnya mendulang tiga jenis komoditas: uang, duit dan fulus.

Saya rasa Mas Eep punya selera tulisan yang setipe dengan saya, atas dasar itulah saya membeli buku ini.


Buku ini diawali dengan sebuah pesan dari penulis berbunyi, "Kupersembahkan kepada mereka yang tetap tangguh menjaga idealisme, apapun situasinya". Sebuah pesan yang membuat dahi berkerut. Seperti apa idealisme yang dimaksud?

Kisah ini diceritakan Jeihan dengan Subjek utamannya Broto Dimas. Diawali dengan gambaran gelora pergerakan mahasiswa pada masa Orde Baru. Dua sahabat ini memiliki idealisme mahasiswa yang begitu kokohnya untuk membela kepentingan rakyat. Romantise yang dibangun bukan hanya seputar cinta kepada negara dan rakyat tapi juga dengan kekasih mereka, Rastri dan Miranti.

Karna aktifitasnya ini akhirnya Broto menjadi tapol karna ditengarai menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam peristiwa Malari. 11 bulan ia mendekam di penjara. Setelah bebas dia meneruskan pendidikan di Belanda.

Kembalinya ke Indonesia ia memulai karir politiknya. Puncaknya ketika ia menang dalam pemilu dan menjadi presiden ke 7 Indonesia. Dia memasang Chiphumzila kepada seluruh jajaran kabinetnya. Chiphumzila adalah sebuah chip yang di selipkan di dalam tubuh  yang dapat merekam aktifitas seseorang. Ini adalah terobosan yang dibuat oleh Presiden Broto dengan mengadopsi teknologi dari Mexico.

Trobosan ini disambut dengan pro dan kontra di masyarakat. Namun seiring jalan bisa di terima bahkan diapresiasi oleh seluruh rakyat karena dengan adanya Chiphumzila para pejabat tidak berani lagi korupsi karena selalu dimonitoring. Broto Dimas dianggap berhasil menumpas kejahatan korupsi di Indonesia. Tapi menjelang akhir kepemimpinannya ia diduga diracun dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Indonesia berkabung kehilangan mataharinya.

Secara garis besar yang buku ini bercerita tentang perjuangan seorang aktivis mahasiswa yang kemudian aktif di dalam politik dan menjadi presiden. Gaya penulisannya pun mudah dicerna karena tidak banyak istilah yang membingungkan. Cerita yang sederhana, namun konflik yang dibangun dalam setiap prosesnya ini yang saya anggap menarik.


Bagaimana Broto Dimas yang lahir dari keluarga militer namun memilih menjadi pemuda yang memberontak pada pemerintahan Orde Baru

Bagaimana Kisah cinta Broto Dimas yang tidak direstui ayah kekasihnya karena dianggap sebagai seorang pemberontak yang tidak punya masa depan

Bagaimana aktivitasnya dalam mengorganisir gerakan mahasiswa

Bagaimana idealisme mahasiswanya membawa dia ke dalam penjara dan menyandang gelar tahanan politik

Bagaimana Broto Dimas membangun partai baru selepas tumbangnya Orde baru

Bagaiman Broto dimas dikelilingi orang-orang berkepentingan dalam Pilpres, ibarat cahaya yang dikerubuti laron.

Bagaimana partainya membuat strategi untuk memenangkan pemilu

Bagaimana  Broto Dimas menghadapi serangan dalam pemilu terkait perkawinan beda agama

Bagaimana perdebatan penggunaan jilbab bagi istri broto dimas (istrinya Non Muslim)

Bagaimana cara Broto dimas menjalankan kekuasaannya dan menghapus korupsi di Indonesia


Semua konflik dalam buku ini bersumber pada satu jawaban yaitu idealisme Broto Dimas. Bagaimana idealisme seorang aktivis mahasiswa yang tetap bertahan hingga ia memangkku jabatan sebagai Presiden bahkan hingga akhir hayatnya. Oleh sebab itu buku ini memang pantas dipersembahkan untuk orang-orang yang tetap menjaga idealisme apapun situasinya.

Saya suka dengan buku ini, tidak sedikitpun kecewa. Saya mungkin harus belajar untuk lebih paham bahwa setiap karya yang tercipta punya keindahannya sendiri.


Sekian.




Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...