![]() |
| http://tabloidjubi.com/img_berita/53nusa-2-kiri_sawah.jpg |
Hari ini saya mulai
masuk kelas Sistem Poitik Asia Tenggara. Mata kuliah Sistem Politik Asia
Tenggara tak ubahnya mata kuliah politik lain yang sering kali bahasannya
menjadi ngalor-ngidul. Bahasan kali ini sedikit menyinggung masalah pangan dan
mobil Esemka, tapi untuk tulisan saya hanya akan membahas tentang masalah
pangan.
Tulisan ini banyak
mencakup opini pribadi saya jadi untuk para pembaca tidak usah diambil pusing,
toh ini hanya opini.
Pak Banu menanyakan,
mengapa saat ini Indonesia tidak bisa swasembada pangan seperti masa Orde Baru?
Mengapa indonesia lebih memilih impor dalam hal pangan?
Dengan ilmu sotoy
saya pun menjawab, "karna ada anggapan bahwa impor lebih murah daripada
memproduksi sendiri". Nampaknya jawaban saya ini tidak salah, meskipun
tidak sepenuhnya benar pula.
Berbicara soal
pangan mengingatkan saya dengan iklan di Metro TV beberapa tahun lalu. Iklan
itu menunjukkan gambar tumpeng beserta lauk pauk dipinggirnya. Tampilan tumpeng
seperti biasa, hanya saja tiap bagian tumpeng ditandai dengan bendera kecil
yang bertuliskan "impor". Iklan itu sarkastik sekali, tapi oke juga
lah ya.
Mengapa saat ini
Indonesia tidak bisa swasembada pangan?
Pertanyaan ini
mengusik pikiran saya, sungguh. Masihkah kail dan jalan cukup menghidupi? Masih
bisakah kah tongkat kayu dan batu jadi tanaman? Dan masih pantaskah tanah ini
disebut tanah surga seperti yang dikatakan Koes Plus?
Memangnya memilih
menjadi negara agraris itu menjadi sebuah keterbelakangan?
Saya tidak pernah
paham mengapa banyak negara berlomba-lomba mendapatkan titel "negara
maju", dengan berbagai indikator yang mesti dipenuhi. Indikator yang
membuat warga negaranya berjuang sampai hampir mampus. Memangnya pengakuan
sebagai negara maju itu penting?
Mengapa menggunakan
parameter negara lain sebagai acuan kemajuan suatu bangsa?
Mengutamakan ekonomi
dan kemajuan tekonologi yang jelas-jelas sebaik apapun kita mengikuti konsep
mereka, kita akan selalu tertinggal satu langkah di belakang mereka.
Mengapa menjadi
negara agraris tidak menjadi sebuah kebanggan?
Bukankah semua orang
butuh makan?
Indonesia sebagai
negara agraris yang saya pelajari saat SD semakin menjauh dan menjadi negara
industri atau apalah namanya. Intinya saya tidak suka dengan konsep kekinian
ini.
Impor pangan.
Dua kata itu adalah
hal konyol bagi saya. Impor pangan di negara yang begitu subur ini?
Berbicara mengenai
kultur pangan masyarakat Asia Tenggara, dalam bukunya Anthony Reid menjelaskan bahwa kegagalan
pangan atau padi-padian tidak pernah menimbulkan akibat parah seperti yang
dialami oleh negeri yang lebih maju tapi tidak menentu ketersediaan pangannya.
Kecuali sebagai akibat perang, kelaparan
tampaknya tidak pernah memusnahkan penduduk Asia Tenggara seperti yang
menimpa penduduk Cina dan India pada kurun waktu yang sama.
Secara historis kita
bisa melihat bahwa tanah di gugusan Asia Tenggara ini begitu melimpah akan
pangan. Terdapat alternatif lain dalam pemenuhan gizi termasuk soal makanan
pokok.
Lalu mengapa kita
mesti impor?
Bukankan kita punya
kampus IPB sebagai pencetak para sarjana pertanian, kemana perginya mereka? Ke
bank? Ehe....
Impor pangan bukan
sebuah solusi untuk mempertahankan ketahanan pangan bangsa ini. Jika negara
mengnginginkan masyarakatnya menjadi individu yang konsumtif, silahkan bangun
mall. Tapi jika ingin bangsanya menjadi produktif maka cetaklah persawahan dan
perkebunan rakyat.
Disini saya tidak
mempertimbangkan faktor ekonomi , regulasi atau bahkan perjanjian
internasional. Saya hanya memiliki anggapan bahwa kita berasal dari hulu yang
berbeda dengan mereka, lantas mengapa kita harus mengikuti arus bangsa mereka?
Bergantung dengan
impor pangan sama saja seperti ayam yang mati di lumbung padi. Meski pun belum
sepenuhnya mati, yg jelas ia sekarat.
Sekian.
Refrensi :
Anthony Reid, Asia
Tenggara dalam Kurun Waktu Niaga 1450-1680, jilid 1: Tanah di Bawah Angin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar