Sabtu, 04 Maret 2017

Pangan


http://tabloidjubi.com/img_berita/53nusa-2-kiri_sawah.jpg
Hari ini saya mulai masuk kelas Sistem Poitik Asia Tenggara. Mata kuliah Sistem Politik Asia Tenggara tak ubahnya mata kuliah politik lain yang sering kali bahasannya menjadi ngalor-ngidul. Bahasan kali ini sedikit menyinggung masalah pangan dan mobil Esemka, tapi untuk tulisan saya hanya akan membahas tentang masalah pangan.

Tulisan ini banyak mencakup opini pribadi saya jadi untuk para pembaca tidak usah diambil pusing, toh ini hanya opini.

Pak Banu menanyakan, mengapa saat ini Indonesia tidak bisa swasembada pangan seperti masa Orde Baru? Mengapa indonesia lebih memilih impor dalam hal pangan?

Dengan ilmu sotoy saya pun menjawab, "karna ada anggapan bahwa impor lebih murah daripada memproduksi sendiri". Nampaknya jawaban saya ini tidak salah, meskipun tidak sepenuhnya benar pula.

Berbicara soal pangan mengingatkan saya dengan iklan di Metro TV beberapa tahun lalu. Iklan itu menunjukkan gambar tumpeng beserta lauk pauk dipinggirnya. Tampilan tumpeng seperti biasa, hanya saja tiap bagian tumpeng ditandai dengan bendera kecil yang bertuliskan "impor". Iklan itu sarkastik sekali, tapi oke juga lah ya.

Mengapa saat ini Indonesia tidak bisa swasembada pangan?

Pertanyaan ini mengusik pikiran saya, sungguh. Masihkah kail dan jalan cukup menghidupi? Masih bisakah kah tongkat kayu dan batu jadi tanaman? Dan masih pantaskah tanah ini disebut tanah surga seperti yang dikatakan Koes Plus?

Memangnya memilih menjadi negara agraris itu menjadi sebuah keterbelakangan?

Saya tidak pernah paham mengapa banyak negara berlomba-lomba mendapatkan titel "negara maju", dengan berbagai indikator yang mesti dipenuhi. Indikator yang membuat warga negaranya berjuang sampai hampir mampus. Memangnya pengakuan sebagai negara maju itu penting?

Mengapa menggunakan parameter negara lain sebagai acuan kemajuan suatu bangsa?
Mengutamakan ekonomi dan kemajuan tekonologi yang jelas-jelas sebaik apapun kita mengikuti konsep mereka, kita akan selalu tertinggal satu langkah di belakang mereka.

Mengapa menjadi negara agraris tidak menjadi sebuah kebanggan?

Bukankah semua orang butuh makan?

Indonesia sebagai negara agraris yang saya pelajari saat SD semakin menjauh dan menjadi negara industri atau apalah namanya. Intinya saya tidak suka dengan konsep kekinian ini.

Impor pangan.

Dua kata itu adalah hal konyol bagi saya. Impor pangan di negara yang begitu subur ini?

Berbicara mengenai kultur pangan masyarakat Asia Tenggara, dalam bukunya  Anthony Reid menjelaskan bahwa kegagalan pangan atau padi-padian tidak pernah menimbulkan akibat parah seperti yang dialami oleh negeri yang lebih maju tapi tidak menentu ketersediaan pangannya. Kecuali sebagai akibat perang, kelaparan tampaknya tidak pernah memusnahkan penduduk Asia Tenggara seperti yang menimpa penduduk Cina dan India pada kurun waktu yang sama.

Secara historis kita bisa melihat bahwa tanah di gugusan Asia Tenggara ini begitu melimpah akan pangan. Terdapat alternatif lain dalam pemenuhan gizi termasuk soal makanan pokok.

Lalu mengapa kita mesti impor?

Bukankan kita punya kampus IPB sebagai pencetak para sarjana pertanian, kemana perginya mereka? Ke bank? Ehe....

Impor pangan bukan sebuah solusi untuk mempertahankan ketahanan pangan bangsa ini. Jika negara mengnginginkan masyarakatnya menjadi individu yang konsumtif, silahkan bangun mall. Tapi jika ingin bangsanya menjadi produktif maka cetaklah persawahan dan perkebunan rakyat.

Disini saya tidak mempertimbangkan faktor ekonomi , regulasi atau bahkan perjanjian internasional. Saya hanya memiliki anggapan bahwa kita berasal dari hulu yang berbeda dengan mereka, lantas mengapa kita harus mengikuti arus bangsa mereka?

Bergantung dengan impor pangan sama saja seperti ayam yang mati di lumbung padi. Meski pun belum sepenuhnya mati, yg jelas ia sekarat.

Sekian.

Refrensi :
Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Waktu Niaga 1450-1680, jilid 1: Tanah di Bawah Angin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...