Minggu, 12 Februari 2017

Lacur


Kini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum, kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang

Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman

Apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya
Apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyabung nyawa

Ini sepengal lagu Kupu-Kupu Malam ciptaan Titiek Puspa. Lagu yang cocok menjadi pembuka dalam tulisan kali ini.

Beberapa hari lalu saya baru saja menamatkan sebuah novel berjudul Re:, karya Maman Suherman. Saat itu Herman masih menjadi mahasiswa Kriminologi Universitas Indonesia. Novel ini kisah nyata dari proses penulisan skripsi Herman yang mengangkat kasus pelacuran, dengan Re sebagai narahubungnya. 

Re; berlatar belakang tahun 1989, namun setelah 25 tahun kemudian menurut Heran tidak banyak yg berubah. Hanya bentuk dan kemasannya yg berubah, tapi esensi dan isi masalahnya tetap sama.

Novel ini diawali dengan cerita Sinta (teman Re) yang dibunuh. Lalu Herman semakin masuk kedalam dunia pelacuran yang selama ini tidak pernah ia bayangkan. Dari berbagai temuan lapangan, Herman membuat klasifikasi menurut jenis kelamin. Menurutnya, di Jakarta dan berbagai kota besar lainnya yang berkembang bukan hanya pelacur perempuan tapi juga laki-laki bahkan banci. Jadi selain Wanita Tuna Susila (WTS), seharusnya ada juga istilah Lelaki Tuna Susila (LTS ) dan Banci Tuna Susila (BTS).

Ketika saya membaca buku ini, saya jadi ingat Wandi/Winda yang pernah saya ceritakan di sini https://apreliaa.blogspot.co.id/2016/10/sebut-saja-dia-wandi-dan-winda.html . Ya saya tahu bahwa Wandi/Winda bukan hanya ngamen sebagai banci, namun juga sebagai Banci Tuna Susila (BTS) seperti yang diklasifikasikan Heran.

Selain hasil temuan Herman yang kelak dimasukkan ke dalam skripsinya, novel ini lebih banyak menyajikan kehidupan Re;. Berbagai hal yang Herman ceritakan merupakan kisahnya dari awal bertemu Re hingga Ia menjadi supir Re bahkan sampai Re meninggal (dibunuh).

Sebuah kalimat pilu terucap dari mulut Re sesaat setelah menceritakan kecurigaan atas kematian Sinta, " lonte itu sepertinya saja hidup karena masih bernapas, padahal sudah mati. Sering dianggap bukan manusia. Kalau sudah tidak diperlukan, dibuang begitu saja. Dikejar-kejar seperti coro. Diinjak-injak sampai nggak berbentuk!"

Cukup segitu saya menceritakan tentang buku ini, saya pikir lebih baik kalian membacanya langsung.


Kemarin saya bertemu Ebi, yang saat ini menjadi salah satu mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta. Dia bercerita kepada saya bahwa saat ujian kemarin dia disuruh menggambar anatomi tubuh perempuan.

Saat itu pula di dalam kelas dihadirkan seorang perempuan dengan keadaan hampir telanjang. Hanya bagaian kelaminnya saja yang tertutup bahan. Teman saya itu tercengang dengan ujiannya kali ini. Dia bilang bahwa perempuan itu dijadikan objek gambar selama 45 menit dengan bayaran hanya 750.000!!!! Ini gila pikir saya!

Atau cerita dari Bu Risma (Walikota Surabaya) yang pernah berdialog dengan warganya di kawasan Dolly. Dalam sebuah liputan Ibu Risma bercerita bahwa ia pernah bertemu dengan seorang nenek-nenek yang masih menjadi pekerja seks.

Saat ditanya Bu Risma "diusia setua ini pelanggannya siapa?"
Nenek itu menjawab, "ada bu, biasanya anak-anak".
"memannya mereka bayar berapa?"
"dibayar dua ribu juga saya terima Bu.

Ibu Risma menitihkan air mata seketika. Saya kira kalau saya secara langsung mendengar cerita dari nenek itu saya juga bakalan nangis termehek-mehek. Ini sangat miris.

 Meski sudah banyak mendengar cerita seperti ini, saya masih selalu tercengang. Saya sering berpikir tentang kehormatan perempuan. Dari cara berbicara, berpakaian, bahkan tingkah lakunya. Tapi semakin saya masuk ke dalam kisah-kisah itu, saya semakin paham bahwa nyatanya kehormatan hanya omong kosong bagi mereka yang "bingung" bagaimana caranya agar besok mulutnya tetap tersumpal makanan.

Benar kata Titiek Puspa, yang mereka tahu hanyalah bagaimana menyambung nyawa.


Mengutip sebuah pesan dari novel Re:

Pernah kutanya,
Adakah surga untuk Re yang bergelimpang dosa?
Jawabmu, semua orang berkalung salah dan dosa
Tak ada yang bisa jangkau surga,
Kecuali karna ampunanNya
Re:, katamu, Tuhan bagi siapa saja!

Man,
Kalau mau ikut surgakan aku,
Tuntaskan skripsimu
Tulis apa adanya, kabarkan tentangku
Dan tentang duniaku


Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...