Saya tahu buku ini
dari diskusi HMI. Ka Ipul sedikit menyingung buku yang menceritakan kisah putri
kerajaan Arab Saudi tapi dia lupa apa judulnya. Setelah mencari-cari di google,
akhirnya saya tahu buku itu berjudul Princess. Saya ingin memiliki buku itu,
tapi tidak mudah sebab sudah tidak terbitkan lagi. Sekitar dua bulan lalu,
kebetulan sekali saya menemukannya di toko buku bekas di samping Stasiun
Lenteng Agung. Tanpa pikir panjang Saya langsung membelinya.
Sesuai harapan, buku
ini sangat mengesankan. Ini buku kedua yang saya baca yang menceritakan dengan
apik tentang kehidupan perempuan di daratan Timur Tenggah setelah buku
Perempuan Dari Titik Nol karya Nawal el-Saadawi.
Buku ini
menceritakan tentang Sultana yang merupakan putri Kerajaan Saudi. Perlu
digarisbawahi bahwa novel ini merupakan kisah nyata namun dengan nama-nama
samaran dalam penggambaran kisahnya.
Sultana merupakan
anak bungsu dan hampir semua kakaknya perempuan kecuali satu anak laki-laki
bernama Faruq. Sebagai anak laki-laki terlebih satu-satunya anak laki-laki,
Faruq diperlakukan bak raja cilik. Di negara dengan budaya patriarki yang
begitu kuat ini, kelahiran anak laki-laki disambut dengan suka cita sedangkan
kelahiran anak perempuan disambut dengan duka cita.
Buku ini
menggambarkan kegetiran perempuan-perempuan disana. Di negara penghasil minyak
ini, dalam keluarga miskin, kaya, dan terhormat semua keadaan perempuan sama
saja, tidak pernah merdeka sebagai manusia.
Perempuan-perempuan
itu hidup bergelimpang harta, tapi tidak memiliki kebebasan atas kehendak
pribadinya. Hal ini ditentang keras oleh Sultana dan beberapa kawannya, namun
pemberontakan mereka membawa petaka. Dua teman Sultana mendapat hukuman dari
keluarganya sendiri karena dianggap telah mencoreng kehormatan keluarga. Salah
seorang ditenggelamkan sampai meninggal di kolam dengan disaksikan seluruh
keluarga, yang satu lagi dikurung di ruangan gelap seumur hidupnya dan akhirnya
ia menjadi gila. Hanya Sultana yang tidak menerima hukuman, sebab saat itu dia
tidak mengikuti "kenakal" teman-temannya itu.
Buku itu juga
menceritakan bagaimana kehidupan laki-laki di sana yang maniak seks. Mereka
menikahi banyak perempuan bahkan perempuan-perempuan yang masih anak-anak.
Mereka juga mengunjungi banyak negara terutama daratan Asia (Filipina) untuk "jajan" seks. Mungkin tempat
itu seperti Kampung Arab yang ada di Puncak pikir saya. Dosen Perempuan dan
Politik saya juga bercerita bahwa TKW yang bekerja di Arab Saudi sebagian besar
diperkosa majikannya sebab mereka menganggap para TKW itu sebagai budak.
Diceritakan juga
bagaimana kehidupan Keluarga Kerajaan yang sangat mewah. Mereka dengan mudah
membangun istana dengan tanah yang luas beserta barang-barang mewah di setiap
sudutnya. Mereka tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang, uang mereka
melimpah akibat minyak dan bisnis properti. Hal ini dapat dilihat saat
kedatangan Raja Salman ke Indonesia. Bagaimana mewahnya penyambutan dan masa
liburannya disini. Bahkan saya pusing membayangkan uang yang mereka habiskan
untuk semua kemewahan itu.
Sebuah ironi yang
mesti kita telan bulat-bulat. Begitu besarnya biaya yang mesti dikeluarkan
untuk keluarga yang bertugas menjaga kota suci itu. Kota suci yang sekarang pun
sudah dikomersialisasi. Kehidupan umat muslim yang harcur akibat perang tidak
menjadi pertimbangan untuk merubah pola hidup keluarga kerajaan agar lebih
sederhana.
Saat kedatangan Raja
Salman semua orang memuja memuji. Mereka menganggapnya penuh kesucian tanpa
dosa. Yang saya lihat hanya keegoisan di wajah mereka. Bagaimana bisa mereka
hidup bermewah-mewah ditenggah kehancuran umat muslim saat ini? Ternyata benar
bahwa harta benar-benar menggelapkan pandang dan inilah awal keruntuhan.
Sekian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar