Minggu, 07 Mei 2017

Princess, Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi


Saya tahu buku ini dari diskusi HMI. Ka Ipul sedikit menyingung buku yang menceritakan kisah putri kerajaan Arab Saudi tapi dia lupa apa judulnya. Setelah mencari-cari di google, akhirnya saya tahu buku itu berjudul Princess. Saya ingin memiliki buku itu, tapi tidak mudah sebab sudah tidak terbitkan lagi. Sekitar dua bulan lalu, kebetulan sekali saya menemukannya di toko buku bekas di samping Stasiun Lenteng Agung. Tanpa pikir panjang Saya langsung membelinya.

Sesuai harapan, buku ini sangat mengesankan. Ini buku kedua yang saya baca yang menceritakan dengan apik tentang kehidupan perempuan di daratan Timur Tenggah setelah buku Perempuan Dari Titik Nol karya Nawal el-Saadawi.

Buku ini menceritakan tentang Sultana yang merupakan putri Kerajaan Saudi. Perlu digarisbawahi bahwa novel ini merupakan kisah nyata namun dengan nama-nama samaran dalam penggambaran kisahnya.

Sultana merupakan anak bungsu dan hampir semua kakaknya perempuan kecuali satu anak laki-laki bernama Faruq. Sebagai anak laki-laki terlebih satu-satunya anak laki-laki, Faruq diperlakukan bak raja cilik. Di negara dengan budaya patriarki yang begitu kuat ini, kelahiran anak laki-laki disambut dengan suka cita sedangkan kelahiran anak perempuan disambut dengan duka cita.

Buku ini menggambarkan kegetiran perempuan-perempuan disana. Di negara penghasil minyak ini, dalam keluarga miskin, kaya, dan terhormat semua keadaan perempuan sama saja, tidak pernah merdeka sebagai manusia.

Perempuan-perempuan itu hidup bergelimpang harta, tapi tidak memiliki kebebasan atas kehendak pribadinya. Hal ini ditentang keras oleh Sultana dan beberapa kawannya, namun pemberontakan mereka membawa petaka. Dua teman Sultana mendapat hukuman dari keluarganya sendiri karena dianggap telah mencoreng kehormatan keluarga. Salah seorang ditenggelamkan sampai meninggal di kolam dengan disaksikan seluruh keluarga, yang satu lagi dikurung di ruangan gelap seumur hidupnya dan akhirnya ia menjadi gila. Hanya Sultana yang tidak menerima hukuman, sebab saat itu dia tidak mengikuti "kenakal" teman-temannya itu.

Buku itu juga menceritakan bagaimana kehidupan laki-laki di sana yang maniak seks. Mereka menikahi banyak perempuan bahkan perempuan-perempuan yang masih anak-anak. Mereka juga mengunjungi banyak negara terutama daratan Asia (Filipina)  untuk "jajan" seks. Mungkin tempat itu seperti Kampung Arab yang ada di Puncak pikir saya. Dosen Perempuan dan Politik saya juga bercerita bahwa TKW yang bekerja di Arab Saudi sebagian besar diperkosa majikannya sebab mereka menganggap para TKW itu sebagai budak.

Diceritakan juga bagaimana kehidupan Keluarga Kerajaan yang sangat mewah. Mereka dengan mudah membangun istana dengan tanah yang luas beserta barang-barang mewah di setiap sudutnya. Mereka tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang, uang mereka melimpah akibat minyak dan bisnis properti. Hal ini dapat dilihat saat kedatangan Raja Salman ke Indonesia. Bagaimana mewahnya penyambutan dan masa liburannya disini. Bahkan saya pusing membayangkan uang yang mereka habiskan untuk semua kemewahan itu.

Sebuah ironi yang mesti kita telan bulat-bulat. Begitu besarnya biaya yang mesti dikeluarkan untuk keluarga yang bertugas menjaga kota suci itu. Kota suci yang sekarang pun sudah dikomersialisasi. Kehidupan umat muslim yang harcur akibat perang tidak menjadi pertimbangan untuk merubah pola hidup keluarga kerajaan agar lebih sederhana.

Saat kedatangan Raja Salman semua orang memuja memuji. Mereka menganggapnya penuh kesucian tanpa dosa. Yang saya lihat hanya keegoisan di wajah mereka. Bagaimana bisa mereka hidup bermewah-mewah ditenggah kehancuran umat muslim saat ini? Ternyata benar bahwa harta benar-benar menggelapkan pandang dan inilah awal keruntuhan.


Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...