Saya teringat
pertanyaan Wahyu Adji, "'kenapa sih namanya kampus tercinta?".
Pertanyaan ini dilontarkan lewat ask.fm sekitar dua tahun yang lalu. Saat itu
jawaban saya sederhana sekali, "sebab nama yayasannya memang itu".
Saya sempat
mendengar desas-desus alasan mengapa kampus ini dinamakan kampus tercinta. Ada
dua alasan yang saya ketahui, pertama karena katanya banyak yang menemukan
jodoh di kampus ini. Kedua, karena ada bangunan di kampus yang dibangun lewat
patungan mahasiswa. Tapi entahalah mana diantara dua alasan ini yang benar.
Minggu lalu dosen
Perempuan dan Politik saya bercerita tentang IISIP. Cerita yang sudah usang yg
tidak akan ditemukan lagi di IISIP saat ini.
Bu Eni merupakan
dosen yang sudah cukup lama mengajar di IISIP. Jalas dia bukan dosen muda. Dia
mulai mengajar sejak masa kepemimpinan rektor pertama atau kedua (dia sendiri
pun lupa). Intinya sudah cukup lama dan banyak romansa yang ia lalui di kampus
tercinta.
Di IISIP terdapat
ruang makan dosen yang biasa digunakan untuk makan siang. Dulu ruang makan ini
merupakan tempat pertemuan rutin bagi para dosen. Saat memasuki waktu makan
siang bel dibunyikan, pertanda mereka harus segera bergegas ke ruang makan
sebab makan siang bersama merupakan ritual yang tidak boleh dilewatkan.
Saat-saat itu adalah ajang silaturahmi bagi tenaga pengajar dan agar dapat
saling mengenal satu sama lain.
Lalu setiap tahun
ketika memperingati hari kelahiran kampus tercinta, para dosen terutama dosen
perempuan menginap dan memasak di kampus. Mereka memasak dalam porsi besar dan
hasil masakan mereka akan dinikmati oleh para mahasiswa. Sehari dalam setahun dosen
akan menjadi pelayan bagi mahasiswa. Hal ini menjadikan hubungan dosen dan
mahasiswa menjadi sangat dekat dan tentu hal ini tidak akan lagi ditemukan saat
ini.
Terakhir soal rektor
yang sangat peduli dengan keberlangsungan kehidupan kampusnya. Dulu banyak
dosen muda yang berasal dari luar pulau jawa. Tentu keberadaan keluarganya
cukup jauh. Ketika dosen muda itu hendak melamar kekasihnya, rektor bersedia
menjadi wali yang mewakilkan keluarga untuk melamar. Lalu ketika mereka
menikah, mereka mengadakan resepsi di aula kampus (V-II) dan yang mengurusi
perihal itu semua adalah para pegawai dan dosen di kampus tercinta ini. Saya membayangkan sebegitu dekatnya hubungan
mereka saat itu. Benar-benar seperti keluarga dan sewajarnya keluarga, mereka
penuh cinta.
Mungkin ini alasan
mengapa kampus ini dinamakan kampus tercinta. Ia lahir dan dibesarkan memang
dengan cinta. Hmm agak alay sih kedengarannya, tapi memang nyatanya begitu
Ya sejelek-jeleknya
kampus ini sekarang, setidaknya dia pernah hidup di masa lalu.
Sekian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar