Senin, 01 Mei 2017

Mereka menyebutnya Kampus Tercinta


Saya teringat pertanyaan Wahyu Adji, "'kenapa sih namanya kampus tercinta?". Pertanyaan ini dilontarkan lewat ask.fm sekitar dua tahun yang lalu. Saat itu jawaban saya sederhana sekali, "sebab nama yayasannya memang itu".

Saya sempat mendengar desas-desus alasan mengapa kampus ini dinamakan kampus tercinta. Ada dua alasan yang saya ketahui, pertama karena katanya banyak yang menemukan jodoh di kampus ini. Kedua, karena ada bangunan di kampus yang dibangun lewat patungan mahasiswa. Tapi entahalah mana diantara dua alasan ini yang benar.

Minggu lalu dosen Perempuan dan Politik saya bercerita tentang IISIP. Cerita yang sudah usang yg tidak akan ditemukan lagi di IISIP saat ini.

Bu Eni merupakan dosen yang sudah cukup lama mengajar di IISIP. Jalas dia bukan dosen muda. Dia mulai mengajar sejak masa kepemimpinan rektor pertama atau kedua (dia sendiri pun lupa). Intinya sudah cukup lama dan banyak romansa yang ia lalui di kampus tercinta.

Di IISIP terdapat ruang makan dosen yang biasa digunakan untuk makan siang. Dulu ruang makan ini merupakan tempat pertemuan rutin bagi para dosen. Saat memasuki waktu makan siang bel dibunyikan, pertanda mereka harus segera bergegas ke ruang makan sebab makan siang bersama merupakan ritual yang tidak boleh dilewatkan. Saat-saat itu adalah ajang silaturahmi bagi tenaga pengajar dan agar dapat saling mengenal satu sama lain.

Lalu setiap tahun ketika memperingati hari kelahiran kampus tercinta, para dosen terutama dosen perempuan menginap dan memasak di kampus. Mereka memasak dalam porsi besar dan hasil masakan mereka akan dinikmati oleh para mahasiswa. Sehari dalam setahun dosen akan menjadi pelayan bagi mahasiswa. Hal ini menjadikan hubungan dosen dan mahasiswa menjadi sangat dekat dan tentu hal ini tidak akan lagi ditemukan saat ini.

Terakhir soal rektor yang sangat peduli dengan keberlangsungan kehidupan kampusnya. Dulu banyak dosen muda yang berasal dari luar pulau jawa. Tentu keberadaan keluarganya cukup jauh. Ketika dosen muda itu hendak melamar kekasihnya, rektor bersedia menjadi wali yang mewakilkan keluarga untuk melamar. Lalu ketika mereka menikah, mereka mengadakan resepsi di aula kampus (V-II) dan yang mengurusi perihal itu semua adalah para pegawai dan dosen di kampus tercinta ini.  Saya membayangkan sebegitu dekatnya hubungan mereka saat itu. Benar-benar seperti keluarga dan sewajarnya keluarga, mereka penuh cinta.

Mungkin ini alasan mengapa kampus ini dinamakan kampus tercinta. Ia lahir dan dibesarkan memang dengan cinta. Hmm agak alay sih kedengarannya, tapi memang nyatanya begitu

Ya sejelek-jeleknya kampus ini sekarang, setidaknya dia pernah hidup di masa lalu.

Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...