Kamis, 04 Mei 2017

Mahasiswa IISIP Menggugat: Politik Kampus Hilang Akal


Beberapa tahun belakangan, lini masa Line banjir opini-opini publik dengan berbagai isu. Bingkai politik sosial mendominasi. Kebijakan nasional/lokal, partai politik dan politisi menjadi sasaran empuk hujatan masal. Pengkritiknya siapa lagi kalau bukan mahasiswa.

Memasuki era tanpa senyap, gemuruh retorika semakin tergagap-gagap. Retorika adalah seni berbicara. Semua dibicarakan, kebenaran ataupun kepalsuan. George Orwell berkata, "Hal terburuk yang dapat dikatakan oleh kata-kata terjadi ketika kita membiarkan diri kita takluk kepada kata-kata.

Mahasiswa sebagai kaum yang dianggap berintelektual, tergusur kabut hitam kekuasaan. Mahasiswa mengkritik tajam siapa saja yang bertolak belakang dengan keadilan, kepentingan umum, dan kasih semesta terhadap alam, tapi dia tumpul dalam kritik terhadap prilaku "politisi cilik" kampusnya sendiri. Politisi cilik yang saya maksud bukan para petinggi kampus dan berbagai kebijakaannya, tapi badan-badan kemahasiswaan yang mengecewakan bagi saya. 

Kurang lebih satu bulan BEM kosong kepemimpinan, BPM lebih tidak jelas lagi. Saya mendengar ada kecurangan dalam pemilihan BPM periode lalu. Kabar ini saya dengar dari panitia pemilihan BPM itu sendiri sehingga sulit bagi saya untuk tidak percaya. Mungkin saya bisa "sedikit" memaklumi apabila kecurangan itu tertutupi oleh kinerja yang baik, tapi nyatanya tidak demikian.

Saya tidak akan mengkritisi BEM sebab pemilihan dilakukan secara lebih demokratis dengan persaingan yang terbuka, berbeda dengan BPM yang pemilihannya sangat rawan dengan kecurangan.

Kongres Keluarga Besar Mahasiswa IISIP Jakarta kemarin menghasilakan syarat untuk mencalonkan diri menjadi pengurus BPM dengan pengumpulan minimal 35 KPSM dan IPK minimal 2.00. Syarat mengalami kemunduran sebab sebelumnya IPK minimal adalah 2.50.

Syarat ini tidak mengkualifikasi calon, syarat ini kelewat mudah. Saya tidak mengusulkan adanya syarat yang tinggi, tapi setidaknya syarat standar bagi kami mahasiswa untuk percaya bahwa calon-calon BPM itu adalah orang yang berkualitas baik secara akademik dan nonakademik.

Dalih penetapan IPK minimal 2.00, bahwa "IPK tinggi tidak menjamin seseorang mampu mengurus organisasi", memangnya IPK yang rendah menjamin anda mampu mengurus organisasi? Atau karena orang-orang yang berkecimpung di dalam organisasi IPK nya rendah-rendah?

Lalu sekarang lahirlah problem, dasar mahasiswa percaya bahwa Anda (calon anggota BPM) "berkualitas" itu dengan apa?

Belum lagi persekongkolah dalam memilih ketua BPM yang tidak kalah busuknya. Lantas bagaimana kami sebagai mahasiswa mempercayai anda-anda sebagai dewan perwakilan kami?

Organisasi eksternal menambah semarak perebuatan kursi kekuasaan kampus. Sayangnya bukan kualitas yang mereka munculkan tapi strategi licik.

Jika pendidikan kampus mengajarkan moralitas politik, mengapa kalian memprektakkan politik amoral? Jika kalian tahu mana yang baik, mengapa kalian memilih yang buruk? Jika kalian tahu memakai kacamata hitam akan menggelapkan pandang, mengapa kalian masih menggunakannya?

Disaat semua kampus berlomba menjadi paling hebat, mengapa kita tetap terbelenggu standar yang tidak menggugah hasrat? Kampus IISIP hari ini semacam kehiangan keintelektualannya, kehilangan akal.

Tabiat buruk tidak mengenal waktu, ia membelenggu kapan pun, siapa pun, dan kelas sosial mana pun.  Fenomena hari ini, kampus IISIP Jakarta mencetak calon sarjana licik bukan calon sarjana terdidik. Anda yang mengenyam bangku kuliah, tidak otomatis memiliki intelektualitas. Jikalau Anda tidak mahami esensi pendidikan, anda hanya mesin uang yang menggerakan industri pendidikan.


Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...