Opera Indonesia.
Buku yang secara visual tidak cukup menarik. Disain sampul yang saya rasa
"biasa banget". Ditulis oleh seorang anggota DPR periode 2004-2009
bernama Joko Santoso HP.
Satu-satunya alasan
saya beli buku ini karena ada komentar dari Eep Saefulloh Fatah di cover
belakang. Eep Saefulloh Fatah yang kumpulan tulisannya telah diterbitkan dalam
sebuah buku yang berjudul Mencintai Indonesia dengan Amal. Didalamnya termuat
banyak kalimat "cantik"
Salah satunya,
Newmont
tengah bersiap menambang, menambang dan menambang untuk akhirnya mendulang tiga
jenis komoditas: uang, duit dan fulus.
Saya rasa Mas Eep
punya selera tulisan yang setipe dengan saya, atas dasar itulah saya membeli
buku ini.
Buku ini diawali
dengan sebuah pesan dari penulis berbunyi, "Kupersembahkan kepada mereka
yang tetap tangguh menjaga idealisme, apapun situasinya". Sebuah pesan
yang membuat dahi berkerut. Seperti apa idealisme yang dimaksud?
Kisah ini
diceritakan Jeihan dengan Subjek utamannya Broto Dimas. Diawali dengan gambaran
gelora pergerakan mahasiswa pada masa Orde Baru. Dua sahabat ini memiliki
idealisme mahasiswa yang begitu kokohnya untuk membela kepentingan rakyat.
Romantise yang dibangun bukan hanya seputar cinta kepada negara dan rakyat tapi
juga dengan kekasih mereka, Rastri dan Miranti.
Karna aktifitasnya
ini akhirnya Broto menjadi tapol karna ditengarai menjadi pihak yang
bertanggung jawab dalam peristiwa Malari. 11 bulan ia mendekam di penjara.
Setelah bebas dia meneruskan pendidikan di Belanda.
Kembalinya ke
Indonesia ia memulai karir politiknya. Puncaknya ketika ia menang dalam pemilu
dan menjadi presiden ke 7 Indonesia. Dia memasang Chiphumzila kepada seluruh
jajaran kabinetnya. Chiphumzila adalah sebuah chip yang di selipkan di dalam
tubuh yang dapat merekam aktifitas
seseorang. Ini adalah terobosan yang dibuat oleh Presiden Broto dengan
mengadopsi teknologi dari Mexico.
Trobosan ini
disambut dengan pro dan kontra di masyarakat. Namun seiring jalan bisa di
terima bahkan diapresiasi oleh seluruh rakyat karena dengan adanya Chiphumzila
para pejabat tidak berani lagi korupsi karena selalu dimonitoring. Broto Dimas
dianggap berhasil menumpas kejahatan korupsi di Indonesia. Tapi menjelang akhir
kepemimpinannya ia diduga diracun dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Indonesia berkabung kehilangan mataharinya.
Secara garis besar
yang buku ini bercerita tentang perjuangan seorang aktivis mahasiswa yang
kemudian aktif di dalam politik dan menjadi presiden. Gaya penulisannya pun
mudah dicerna karena tidak banyak istilah yang membingungkan. Cerita yang
sederhana, namun konflik yang dibangun dalam setiap prosesnya ini yang saya
anggap menarik.
Bagaimana Broto
Dimas yang lahir dari keluarga militer namun memilih menjadi pemuda yang
memberontak pada pemerintahan Orde Baru
Bagaimana Kisah
cinta Broto Dimas yang tidak direstui ayah kekasihnya karena dianggap sebagai
seorang pemberontak yang tidak punya masa depan
Bagaimana
aktivitasnya dalam mengorganisir gerakan mahasiswa
Bagaimana idealisme
mahasiswanya membawa dia ke dalam penjara dan menyandang gelar tahanan politik
Bagaimana Broto
Dimas membangun partai baru selepas tumbangnya Orde baru
Bagaiman Broto dimas
dikelilingi orang-orang berkepentingan dalam Pilpres, ibarat cahaya yang
dikerubuti laron.
Bagaimana partainya
membuat strategi untuk memenangkan pemilu
Bagaimana Broto Dimas menghadapi serangan dalam pemilu
terkait perkawinan beda agama
Bagaimana perdebatan
penggunaan jilbab bagi istri broto dimas (istrinya Non Muslim)
Bagaimana cara Broto
dimas menjalankan kekuasaannya dan menghapus korupsi di Indonesia
Semua konflik dalam
buku ini bersumber pada satu jawaban yaitu idealisme Broto Dimas. Bagaimana
idealisme seorang aktivis mahasiswa yang tetap bertahan hingga ia memangkku
jabatan sebagai Presiden bahkan hingga akhir hayatnya. Oleh sebab itu buku ini
memang pantas dipersembahkan untuk orang-orang
yang tetap menjaga idealisme apapun situasinya.
Saya suka dengan buku ini, tidak sedikitpun kecewa. Saya mungkin harus belajar untuk lebih paham bahwa setiap karya yang
tercipta punya keindahannya sendiri.
Sekian.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar