Kamis, 19 Januari 2017

Opera Indonesia, Presiden Broto Dimas

Opera Indonesia. Buku yang secara visual tidak cukup menarik. Disain sampul yang saya rasa "biasa banget". Ditulis oleh seorang anggota DPR periode 2004-2009 bernama Joko Santoso HP.

Satu-satunya alasan saya beli buku ini karena ada komentar dari Eep Saefulloh Fatah di cover belakang. Eep Saefulloh Fatah yang kumpulan tulisannya telah diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul Mencintai Indonesia dengan Amal. Didalamnya termuat banyak kalimat "cantik"

Salah satunya,

Newmont tengah bersiap menambang, menambang dan menambang untuk akhirnya mendulang tiga jenis komoditas: uang, duit dan fulus.

Saya rasa Mas Eep punya selera tulisan yang setipe dengan saya, atas dasar itulah saya membeli buku ini.


Buku ini diawali dengan sebuah pesan dari penulis berbunyi, "Kupersembahkan kepada mereka yang tetap tangguh menjaga idealisme, apapun situasinya". Sebuah pesan yang membuat dahi berkerut. Seperti apa idealisme yang dimaksud?

Kisah ini diceritakan Jeihan dengan Subjek utamannya Broto Dimas. Diawali dengan gambaran gelora pergerakan mahasiswa pada masa Orde Baru. Dua sahabat ini memiliki idealisme mahasiswa yang begitu kokohnya untuk membela kepentingan rakyat. Romantise yang dibangun bukan hanya seputar cinta kepada negara dan rakyat tapi juga dengan kekasih mereka, Rastri dan Miranti.

Karna aktifitasnya ini akhirnya Broto menjadi tapol karna ditengarai menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam peristiwa Malari. 11 bulan ia mendekam di penjara. Setelah bebas dia meneruskan pendidikan di Belanda.

Kembalinya ke Indonesia ia memulai karir politiknya. Puncaknya ketika ia menang dalam pemilu dan menjadi presiden ke 7 Indonesia. Dia memasang Chiphumzila kepada seluruh jajaran kabinetnya. Chiphumzila adalah sebuah chip yang di selipkan di dalam tubuh  yang dapat merekam aktifitas seseorang. Ini adalah terobosan yang dibuat oleh Presiden Broto dengan mengadopsi teknologi dari Mexico.

Trobosan ini disambut dengan pro dan kontra di masyarakat. Namun seiring jalan bisa di terima bahkan diapresiasi oleh seluruh rakyat karena dengan adanya Chiphumzila para pejabat tidak berani lagi korupsi karena selalu dimonitoring. Broto Dimas dianggap berhasil menumpas kejahatan korupsi di Indonesia. Tapi menjelang akhir kepemimpinannya ia diduga diracun dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Indonesia berkabung kehilangan mataharinya.

Secara garis besar yang buku ini bercerita tentang perjuangan seorang aktivis mahasiswa yang kemudian aktif di dalam politik dan menjadi presiden. Gaya penulisannya pun mudah dicerna karena tidak banyak istilah yang membingungkan. Cerita yang sederhana, namun konflik yang dibangun dalam setiap prosesnya ini yang saya anggap menarik.


Bagaimana Broto Dimas yang lahir dari keluarga militer namun memilih menjadi pemuda yang memberontak pada pemerintahan Orde Baru

Bagaimana Kisah cinta Broto Dimas yang tidak direstui ayah kekasihnya karena dianggap sebagai seorang pemberontak yang tidak punya masa depan

Bagaimana aktivitasnya dalam mengorganisir gerakan mahasiswa

Bagaimana idealisme mahasiswanya membawa dia ke dalam penjara dan menyandang gelar tahanan politik

Bagaimana Broto Dimas membangun partai baru selepas tumbangnya Orde baru

Bagaiman Broto dimas dikelilingi orang-orang berkepentingan dalam Pilpres, ibarat cahaya yang dikerubuti laron.

Bagaimana partainya membuat strategi untuk memenangkan pemilu

Bagaimana  Broto Dimas menghadapi serangan dalam pemilu terkait perkawinan beda agama

Bagaimana perdebatan penggunaan jilbab bagi istri broto dimas (istrinya Non Muslim)

Bagaimana cara Broto dimas menjalankan kekuasaannya dan menghapus korupsi di Indonesia


Semua konflik dalam buku ini bersumber pada satu jawaban yaitu idealisme Broto Dimas. Bagaimana idealisme seorang aktivis mahasiswa yang tetap bertahan hingga ia memangkku jabatan sebagai Presiden bahkan hingga akhir hayatnya. Oleh sebab itu buku ini memang pantas dipersembahkan untuk orang-orang yang tetap menjaga idealisme apapun situasinya.

Saya suka dengan buku ini, tidak sedikitpun kecewa. Saya mungkin harus belajar untuk lebih paham bahwa setiap karya yang tercipta punya keindahannya sendiri.


Sekian.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...