Istirahatlah
kata-kata, sebuh film yang menceritakan masa pelarian Wiji Thukul di Pontianak.
Keresahan, ketakutan dan kerinduan sangat kental dalam setiap adegan. Bagi saya
yang awam tentang perfilman, saya rasa film ini cukup sempurna. Penonton bisa
dibawa hanyut kedalam kehidupan Wiji Thukul. Hanyut dalam kerinduan Sipon
kepada suaminya. Hanyut dalam kerinduan Fitri akan bapaknya dan hanyut dalam
nyanyian getir Fajar di akhir filmnya,
seumpama
bunga, kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh.........".
Sejujurnya saya
lebih menikmati adegan-adegan Sipon yang penuh kegelisahan dan kecemasan, hal
yang jarang diulik dalam buku-buku hilangnya Thukul. Terlebih di akhir film
saat adegan Sipon dianggap lonte oleh tentangganya. Dengan isak tangis
dia berkata kepada Thukul,
Aku
tidak ingin kamu pergi
Aku
juga tidak ingin kamu pulang
Aku
hanya ingin kamu ada
Sungguh ini adegan
luar biasa, mengguras emosi secara visual dan makin lengkap dengan kata-kata
penuh makna.
Selama empat hari
pemutaran film Istirahatlah kata-kata, saya memantau komentar orang-orang. Di
facebook saya yang kebetulan banyak orang-orang yang bergelut dengan dunia
pergerakan, film ini mempunyai kesan yang baik. Seperti yang saya bilang tadi
bahwa film ini mampu membawa penonton hanyut ke dalam kehidupan Wiji Thukul.
Mereka puas dengan film ini.
Film ini akan sangat
berkesan bagi mereka yang mengenal atau setidaknya tahu siapa Wiji Thukul. Tapi
bagi yang belum tahu saya rasa mereka tidak akan puas dan bertanya-tanya,
mengapa bisa begini, mengapa bisa begitu.
Tapi bagi saya yang
lahir setelah runtuhnya orde baru, ada ruang kosong yang tidak dapat diisi
dalam menikmati film ini. Mengenal sosok
Wiji Thukul lewat buku saja tidaklah cukup untuk merasakan "roh" dari
film ini. Saya tidak bisa menikmati secara penuh kegelisahan Thukul dalam masa
pelarian, karena kami tidak pernah merasakan hidup dimasa penuh ketakutan itu.
Selasa lalu saya
kembali menonton Film istirahatlah kata-kata. Untuk yang kedua kali ini, makna
dan rasa dari film tersebut semakin mendalam. Tapi tetap saja ruang kosong itu
tidak dapat terisi.
Selepas itu,
diadakan sebuah acara yang dinamakan Ngamen Puisi. Puisi-puisi Wiji Thukul
dibacakan, bahkan puisi siapapun boleh dibacakan dalam panggung ini. Semua
penuh antusias. Penampilan paling berkesan tentu dari kedua anak Thukul, Fitri
dan Fajar. Pembacaan puisi oleh Fitri yang diiringi alunan lagu oleh Fajar.
Mata mereka berbinar, penampilan yang menguras emosi dan sangat ciamik.
Terlepas dari semua
yang nampak, ada sesuatu mengusik jiwa. Masihkah Wiji Thukul ada?
Sekian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar