Jumat, 27 Januari 2017

Istirahatlah Kata-Kata


Istirahatlah kata-kata, sebuh film yang menceritakan masa pelarian Wiji Thukul di Pontianak. Keresahan, ketakutan dan kerinduan sangat kental dalam setiap adegan. Bagi saya yang awam tentang perfilman, saya rasa film ini cukup sempurna. Penonton bisa dibawa hanyut kedalam kehidupan Wiji Thukul. Hanyut dalam kerinduan Sipon kepada suaminya. Hanyut dalam kerinduan Fitri akan bapaknya dan hanyut dalam nyanyian getir Fajar di akhir filmnya,

seumpama bunga, kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh.........".

Sejujurnya saya lebih menikmati adegan-adegan Sipon yang penuh kegelisahan dan kecemasan, hal yang jarang diulik dalam buku-buku hilangnya Thukul. Terlebih di akhir film saat adegan Sipon dianggap lonte oleh tentangganya. Dengan isak tangis dia berkata kepada Thukul,

Aku tidak ingin kamu pergi
Aku juga tidak ingin kamu pulang
Aku hanya ingin kamu ada

Sungguh ini adegan luar biasa, mengguras emosi secara visual dan makin lengkap dengan kata-kata penuh makna.

Selama empat hari pemutaran film Istirahatlah kata-kata, saya memantau komentar orang-orang. Di facebook saya yang kebetulan banyak orang-orang yang bergelut dengan dunia pergerakan, film ini mempunyai kesan yang baik. Seperti yang saya bilang tadi bahwa film ini mampu membawa penonton hanyut ke dalam kehidupan Wiji Thukul. Mereka puas dengan film ini.

Film ini akan sangat berkesan bagi mereka yang mengenal atau setidaknya tahu siapa Wiji Thukul. Tapi bagi yang belum tahu saya rasa mereka tidak akan puas dan bertanya-tanya, mengapa bisa begini, mengapa bisa begitu.

Tapi bagi saya yang lahir setelah runtuhnya orde baru, ada ruang kosong yang tidak dapat diisi dalam menikmati film ini.  Mengenal sosok Wiji Thukul lewat buku saja tidaklah cukup untuk merasakan "roh" dari film ini. Saya tidak bisa menikmati secara penuh kegelisahan Thukul dalam masa pelarian, karena kami tidak pernah merasakan hidup dimasa penuh ketakutan itu.

Selasa lalu saya kembali menonton Film istirahatlah kata-kata. Untuk yang kedua kali ini, makna dan rasa dari film tersebut semakin mendalam. Tapi tetap saja ruang kosong itu tidak dapat terisi.

Selepas itu, diadakan sebuah acara yang dinamakan Ngamen Puisi. Puisi-puisi Wiji Thukul dibacakan, bahkan puisi siapapun boleh dibacakan dalam panggung ini. Semua penuh antusias. Penampilan paling berkesan tentu dari kedua anak Thukul, Fitri dan Fajar. Pembacaan puisi oleh Fitri yang diiringi alunan lagu oleh Fajar. Mata mereka berbinar, penampilan yang menguras emosi dan sangat ciamik.

Terlepas dari semua yang nampak, ada sesuatu mengusik jiwa. Masihkah Wiji Thukul ada?


Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...