Rabu, 24 Mei 2017

Gerbong Khusus Wanita


http://annida-online.com/foto_berita/62inilah-fungsi-adanya-gerbong-wanita-di-commuter-line.jpg
Hari ini dalam kelas Perempuan dan Politik, teman saya mempresentasikan studi kasus tentang Gerbong Wanita di KRL Jabodetabek.

Sepanjang presentasi saya tidak sependapat dengan rumusan yang mereka suguhkan, sebab mereka menganggap bahwa gerbong ini adalah solusi pagi penyelesaian kasus pelecehan seksual dalam transportasi umum (KRL).

Tidak terjadi perdebatan sengit, tapi saya hanya memberi sanggahan sedikit.

Bagi saya pengadaan gerbong khusus wanita ini tidak menyelesaikan masalah pelecehan seksual yang dialami perempuan di KRL. Gerbong wanita ini tidak memberikan dampak yang singnifikan dalam mengurangi angka pelecehan, justru menimbulkan fenomena baru yakni minimnya empati antar penumpang didalamnya.

Teman saya memberikan pembelaan, "kalau menurut saya gerbong itu cukup membantu, karena memberikan rasa aman bagi perempuan"

Dan pernyataan itu saya sanggah, "seharusnya dimanapun (gerbong perempuan atau campur) perempuan harus memiliki rasa aman. Itulah yang harusnya dijamin oleh penyedia moda transportasi dan pemerintah"

"diadakannya gerbong khusus wanita bukan mengurangi pelecehan, tapi memang megcut agar tidak terjadi pelecehan sebab penumpang semuanya perempuan. Sedangkan bagi perempuan yang naik di gerbong campur, apa jaminannya agar mereka tidak dilecehkan?"

Inti perdebatannya kira-kira seperti itu.

Solusi pengadaan gerbong khusus untuk mengurangi pelecehan seksual saya rasa tidak menyentuh akar permasalahan. Gerbong itu hanya membuat perempuan "diekslusifkan" padahal yang diperjuangkan perempuan selama ini kan kesetaraan. Perlu ada kesadaran untuk saling menghormati tiap individu dan tidak menjadikan seseorang sebagai objek seksual.

Saya tidak menampik bahwa sebagian kelompok perempuan memang ada yang tidak nyaman berbaur dengan lawan jenisnya. Jika itu dalih untuk mengadakan gerbong khusus, ya saya rasa itu oke-oke saja. Tapi jika untuk meminimalisasi pelecahan seksual, saya tidak setuju.

Hen Feizi dan Nicolo Machiavelli memiliki pandangan yang mirip bahwa manusia itu cenderung berbuat jahat jika tidak dipaksa untuk berbuat baik.

Solusi yang saya tawarkan adalah solusi yang klasik, yakni penegakan hukum yang tegas kepada para pelanggar.

Sejauh  yang saya lihat, tidak ada sanksi yang memberikan efek jera para pelakunya. Saya hanya sempat melihat di Stasiun Manggarai ada pemajangan foto orang-orang yang melakukan tindak pelecehan di KRL. Tapi saya tidak tahu apakah mereka mendapat sanksi hukum atau tidak.

Inilah masalahnya, mesti ada paksaan untuk "berbuat baik". Ya pelecehan memang terkadang dianggap persoalan yang remah, tapi masalah ini meresahkan sekaligus memalukan. Campur tangan negara perlu untuk mengatasi masalah ini demi terciptanya moda transportasi umum yang aman dan nyaman bagi wargannya.

Selain itu perempuan juga harus punya sikap berani untuk melapor, bukan justru takut dan merasa malu. Hak tiap individu untuk merasan aman dan nyaman di transportasi umum itu dilindunggi hukum dan negara mesti memperjuangkan itu.


Sekian.



Minggu, 21 Mei 2017

Zaman Kita

Arus informasi belakangan semakin tak terbendung. Tak ada bendungan yang cukup kuat untuk menahannya, aturan hukum bahkan tingkat pendidikan pun rupannya tidak. Beberapa hari lalu saya menulis di Line, "perkembangan teknologi informasi dalam masyarakat dengan tingkat literasi yang rendah menghasilkan sebuah kondisi dimana sesuatu yang dianggap sebagai realitas adalah apa yang dirumuskan media. Oleh sebab itu, membenturkannya mudah sekali". Tulisan tersebut adalah bentuk kejengkelan saya dengan dunia yang semakin ribut.

Belakangan kita dibuat mabuk, mabuk informasi. Informasi bergerak begitu cepat, saling tindih, saling tuding, manusia hanyut didalam arusnya. Semua menentang satu sama lain. Tidak tahu siapa yang benar, tidak tahu siapa yang salah, tidak tahu siapa yang tahu segalanya, dan tidak tahu siapa yang tidak tahu apa-apa.

Apakah kemajuan teknologi informasi membawa manusia ke peradaban barunya, sekaligus menunjukkan bahwa di dalam kondisi keberadaban tidak semua sabjeknya belaku beradab?

atau

Apakah kemajuan teknologi informasi membawa manusia menuju keperadaban atau justru kebiadaban?


Sekian.

Minggu, 07 Mei 2017

Princess, Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi


Saya tahu buku ini dari diskusi HMI. Ka Ipul sedikit menyingung buku yang menceritakan kisah putri kerajaan Arab Saudi tapi dia lupa apa judulnya. Setelah mencari-cari di google, akhirnya saya tahu buku itu berjudul Princess. Saya ingin memiliki buku itu, tapi tidak mudah sebab sudah tidak terbitkan lagi. Sekitar dua bulan lalu, kebetulan sekali saya menemukannya di toko buku bekas di samping Stasiun Lenteng Agung. Tanpa pikir panjang Saya langsung membelinya.

Sesuai harapan, buku ini sangat mengesankan. Ini buku kedua yang saya baca yang menceritakan dengan apik tentang kehidupan perempuan di daratan Timur Tenggah setelah buku Perempuan Dari Titik Nol karya Nawal el-Saadawi.

Buku ini menceritakan tentang Sultana yang merupakan putri Kerajaan Saudi. Perlu digarisbawahi bahwa novel ini merupakan kisah nyata namun dengan nama-nama samaran dalam penggambaran kisahnya.

Sultana merupakan anak bungsu dan hampir semua kakaknya perempuan kecuali satu anak laki-laki bernama Faruq. Sebagai anak laki-laki terlebih satu-satunya anak laki-laki, Faruq diperlakukan bak raja cilik. Di negara dengan budaya patriarki yang begitu kuat ini, kelahiran anak laki-laki disambut dengan suka cita sedangkan kelahiran anak perempuan disambut dengan duka cita.

Buku ini menggambarkan kegetiran perempuan-perempuan disana. Di negara penghasil minyak ini, dalam keluarga miskin, kaya, dan terhormat semua keadaan perempuan sama saja, tidak pernah merdeka sebagai manusia.

Perempuan-perempuan itu hidup bergelimpang harta, tapi tidak memiliki kebebasan atas kehendak pribadinya. Hal ini ditentang keras oleh Sultana dan beberapa kawannya, namun pemberontakan mereka membawa petaka. Dua teman Sultana mendapat hukuman dari keluarganya sendiri karena dianggap telah mencoreng kehormatan keluarga. Salah seorang ditenggelamkan sampai meninggal di kolam dengan disaksikan seluruh keluarga, yang satu lagi dikurung di ruangan gelap seumur hidupnya dan akhirnya ia menjadi gila. Hanya Sultana yang tidak menerima hukuman, sebab saat itu dia tidak mengikuti "kenakal" teman-temannya itu.

Buku itu juga menceritakan bagaimana kehidupan laki-laki di sana yang maniak seks. Mereka menikahi banyak perempuan bahkan perempuan-perempuan yang masih anak-anak. Mereka juga mengunjungi banyak negara terutama daratan Asia (Filipina)  untuk "jajan" seks. Mungkin tempat itu seperti Kampung Arab yang ada di Puncak pikir saya. Dosen Perempuan dan Politik saya juga bercerita bahwa TKW yang bekerja di Arab Saudi sebagian besar diperkosa majikannya sebab mereka menganggap para TKW itu sebagai budak.

Diceritakan juga bagaimana kehidupan Keluarga Kerajaan yang sangat mewah. Mereka dengan mudah membangun istana dengan tanah yang luas beserta barang-barang mewah di setiap sudutnya. Mereka tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang, uang mereka melimpah akibat minyak dan bisnis properti. Hal ini dapat dilihat saat kedatangan Raja Salman ke Indonesia. Bagaimana mewahnya penyambutan dan masa liburannya disini. Bahkan saya pusing membayangkan uang yang mereka habiskan untuk semua kemewahan itu.

Sebuah ironi yang mesti kita telan bulat-bulat. Begitu besarnya biaya yang mesti dikeluarkan untuk keluarga yang bertugas menjaga kota suci itu. Kota suci yang sekarang pun sudah dikomersialisasi. Kehidupan umat muslim yang harcur akibat perang tidak menjadi pertimbangan untuk merubah pola hidup keluarga kerajaan agar lebih sederhana.

Saat kedatangan Raja Salman semua orang memuja memuji. Mereka menganggapnya penuh kesucian tanpa dosa. Yang saya lihat hanya keegoisan di wajah mereka. Bagaimana bisa mereka hidup bermewah-mewah ditenggah kehancuran umat muslim saat ini? Ternyata benar bahwa harta benar-benar menggelapkan pandang dan inilah awal keruntuhan.


Sekian.

Kamis, 04 Mei 2017

Mahasiswa IISIP Menggugat: Politik Kampus Hilang Akal


Beberapa tahun belakangan, lini masa Line banjir opini-opini publik dengan berbagai isu. Bingkai politik sosial mendominasi. Kebijakan nasional/lokal, partai politik dan politisi menjadi sasaran empuk hujatan masal. Pengkritiknya siapa lagi kalau bukan mahasiswa.

Memasuki era tanpa senyap, gemuruh retorika semakin tergagap-gagap. Retorika adalah seni berbicara. Semua dibicarakan, kebenaran ataupun kepalsuan. George Orwell berkata, "Hal terburuk yang dapat dikatakan oleh kata-kata terjadi ketika kita membiarkan diri kita takluk kepada kata-kata.

Mahasiswa sebagai kaum yang dianggap berintelektual, tergusur kabut hitam kekuasaan. Mahasiswa mengkritik tajam siapa saja yang bertolak belakang dengan keadilan, kepentingan umum, dan kasih semesta terhadap alam, tapi dia tumpul dalam kritik terhadap prilaku "politisi cilik" kampusnya sendiri. Politisi cilik yang saya maksud bukan para petinggi kampus dan berbagai kebijakaannya, tapi badan-badan kemahasiswaan yang mengecewakan bagi saya. 

Kurang lebih satu bulan BEM kosong kepemimpinan, BPM lebih tidak jelas lagi. Saya mendengar ada kecurangan dalam pemilihan BPM periode lalu. Kabar ini saya dengar dari panitia pemilihan BPM itu sendiri sehingga sulit bagi saya untuk tidak percaya. Mungkin saya bisa "sedikit" memaklumi apabila kecurangan itu tertutupi oleh kinerja yang baik, tapi nyatanya tidak demikian.

Saya tidak akan mengkritisi BEM sebab pemilihan dilakukan secara lebih demokratis dengan persaingan yang terbuka, berbeda dengan BPM yang pemilihannya sangat rawan dengan kecurangan.

Kongres Keluarga Besar Mahasiswa IISIP Jakarta kemarin menghasilakan syarat untuk mencalonkan diri menjadi pengurus BPM dengan pengumpulan minimal 35 KPSM dan IPK minimal 2.00. Syarat mengalami kemunduran sebab sebelumnya IPK minimal adalah 2.50.

Syarat ini tidak mengkualifikasi calon, syarat ini kelewat mudah. Saya tidak mengusulkan adanya syarat yang tinggi, tapi setidaknya syarat standar bagi kami mahasiswa untuk percaya bahwa calon-calon BPM itu adalah orang yang berkualitas baik secara akademik dan nonakademik.

Dalih penetapan IPK minimal 2.00, bahwa "IPK tinggi tidak menjamin seseorang mampu mengurus organisasi", memangnya IPK yang rendah menjamin anda mampu mengurus organisasi? Atau karena orang-orang yang berkecimpung di dalam organisasi IPK nya rendah-rendah?

Lalu sekarang lahirlah problem, dasar mahasiswa percaya bahwa Anda (calon anggota BPM) "berkualitas" itu dengan apa?

Belum lagi persekongkolah dalam memilih ketua BPM yang tidak kalah busuknya. Lantas bagaimana kami sebagai mahasiswa mempercayai anda-anda sebagai dewan perwakilan kami?

Organisasi eksternal menambah semarak perebuatan kursi kekuasaan kampus. Sayangnya bukan kualitas yang mereka munculkan tapi strategi licik.

Jika pendidikan kampus mengajarkan moralitas politik, mengapa kalian memprektakkan politik amoral? Jika kalian tahu mana yang baik, mengapa kalian memilih yang buruk? Jika kalian tahu memakai kacamata hitam akan menggelapkan pandang, mengapa kalian masih menggunakannya?

Disaat semua kampus berlomba menjadi paling hebat, mengapa kita tetap terbelenggu standar yang tidak menggugah hasrat? Kampus IISIP hari ini semacam kehiangan keintelektualannya, kehilangan akal.

Tabiat buruk tidak mengenal waktu, ia membelenggu kapan pun, siapa pun, dan kelas sosial mana pun.  Fenomena hari ini, kampus IISIP Jakarta mencetak calon sarjana licik bukan calon sarjana terdidik. Anda yang mengenyam bangku kuliah, tidak otomatis memiliki intelektualitas. Jikalau Anda tidak mahami esensi pendidikan, anda hanya mesin uang yang menggerakan industri pendidikan.


Sekian.

Senin, 01 Mei 2017

Mereka menyebutnya Kampus Tercinta


Saya teringat pertanyaan Wahyu Adji, "'kenapa sih namanya kampus tercinta?". Pertanyaan ini dilontarkan lewat ask.fm sekitar dua tahun yang lalu. Saat itu jawaban saya sederhana sekali, "sebab nama yayasannya memang itu".

Saya sempat mendengar desas-desus alasan mengapa kampus ini dinamakan kampus tercinta. Ada dua alasan yang saya ketahui, pertama karena katanya banyak yang menemukan jodoh di kampus ini. Kedua, karena ada bangunan di kampus yang dibangun lewat patungan mahasiswa. Tapi entahalah mana diantara dua alasan ini yang benar.

Minggu lalu dosen Perempuan dan Politik saya bercerita tentang IISIP. Cerita yang sudah usang yg tidak akan ditemukan lagi di IISIP saat ini.

Bu Eni merupakan dosen yang sudah cukup lama mengajar di IISIP. Jalas dia bukan dosen muda. Dia mulai mengajar sejak masa kepemimpinan rektor pertama atau kedua (dia sendiri pun lupa). Intinya sudah cukup lama dan banyak romansa yang ia lalui di kampus tercinta.

Di IISIP terdapat ruang makan dosen yang biasa digunakan untuk makan siang. Dulu ruang makan ini merupakan tempat pertemuan rutin bagi para dosen. Saat memasuki waktu makan siang bel dibunyikan, pertanda mereka harus segera bergegas ke ruang makan sebab makan siang bersama merupakan ritual yang tidak boleh dilewatkan. Saat-saat itu adalah ajang silaturahmi bagi tenaga pengajar dan agar dapat saling mengenal satu sama lain.

Lalu setiap tahun ketika memperingati hari kelahiran kampus tercinta, para dosen terutama dosen perempuan menginap dan memasak di kampus. Mereka memasak dalam porsi besar dan hasil masakan mereka akan dinikmati oleh para mahasiswa. Sehari dalam setahun dosen akan menjadi pelayan bagi mahasiswa. Hal ini menjadikan hubungan dosen dan mahasiswa menjadi sangat dekat dan tentu hal ini tidak akan lagi ditemukan saat ini.

Terakhir soal rektor yang sangat peduli dengan keberlangsungan kehidupan kampusnya. Dulu banyak dosen muda yang berasal dari luar pulau jawa. Tentu keberadaan keluarganya cukup jauh. Ketika dosen muda itu hendak melamar kekasihnya, rektor bersedia menjadi wali yang mewakilkan keluarga untuk melamar. Lalu ketika mereka menikah, mereka mengadakan resepsi di aula kampus (V-II) dan yang mengurusi perihal itu semua adalah para pegawai dan dosen di kampus tercinta ini.  Saya membayangkan sebegitu dekatnya hubungan mereka saat itu. Benar-benar seperti keluarga dan sewajarnya keluarga, mereka penuh cinta.

Mungkin ini alasan mengapa kampus ini dinamakan kampus tercinta. Ia lahir dan dibesarkan memang dengan cinta. Hmm agak alay sih kedengarannya, tapi memang nyatanya begitu

Ya sejelek-jeleknya kampus ini sekarang, setidaknya dia pernah hidup di masa lalu.

Sekian.

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...