Beberapa tahun
belakangan, lini masa Line banjir opini-opini publik dengan berbagai isu.
Bingkai politik sosial mendominasi. Kebijakan nasional/lokal, partai politik
dan politisi menjadi sasaran empuk hujatan masal. Pengkritiknya siapa lagi
kalau bukan mahasiswa.
Memasuki era tanpa
senyap, gemuruh retorika semakin tergagap-gagap. Retorika adalah seni
berbicara. Semua dibicarakan, kebenaran ataupun kepalsuan. George Orwell
berkata, "Hal terburuk yang dapat dikatakan oleh kata-kata terjadi ketika
kita membiarkan diri kita takluk kepada kata-kata.
Mahasiswa sebagai
kaum yang dianggap berintelektual, tergusur kabut hitam kekuasaan. Mahasiswa
mengkritik tajam siapa saja yang bertolak belakang dengan keadilan, kepentingan
umum, dan kasih semesta terhadap alam, tapi dia tumpul dalam kritik terhadap prilaku
"politisi cilik" kampusnya sendiri. Politisi cilik yang saya maksud
bukan para petinggi kampus dan berbagai kebijakaannya, tapi badan-badan
kemahasiswaan yang mengecewakan bagi saya.
Kurang lebih satu
bulan BEM kosong kepemimpinan, BPM lebih tidak jelas lagi. Saya mendengar ada
kecurangan dalam pemilihan BPM periode lalu. Kabar ini saya dengar dari panitia
pemilihan BPM itu sendiri sehingga sulit bagi saya untuk tidak percaya. Mungkin
saya bisa "sedikit" memaklumi apabila kecurangan itu tertutupi oleh
kinerja yang baik, tapi nyatanya tidak demikian.
Saya tidak akan
mengkritisi BEM sebab pemilihan dilakukan secara lebih demokratis dengan
persaingan yang terbuka, berbeda dengan BPM yang pemilihannya sangat rawan
dengan kecurangan.
Kongres Keluarga
Besar Mahasiswa IISIP Jakarta kemarin menghasilakan syarat untuk mencalonkan
diri menjadi pengurus BPM dengan pengumpulan minimal 35 KPSM dan IPK minimal
2.00. Syarat mengalami kemunduran sebab sebelumnya IPK minimal adalah 2.50.
Syarat ini tidak
mengkualifikasi calon, syarat ini kelewat mudah. Saya tidak mengusulkan adanya
syarat yang tinggi, tapi setidaknya syarat standar bagi kami mahasiswa untuk
percaya bahwa calon-calon BPM itu adalah orang yang berkualitas baik secara
akademik dan nonakademik.
Dalih penetapan IPK
minimal 2.00, bahwa "IPK tinggi tidak menjamin seseorang mampu mengurus
organisasi", memangnya IPK yang rendah menjamin anda mampu mengurus
organisasi? Atau karena orang-orang yang berkecimpung di dalam organisasi IPK
nya rendah-rendah?
Lalu sekarang
lahirlah problem, dasar mahasiswa percaya bahwa Anda (calon anggota BPM)
"berkualitas" itu dengan apa?
Belum lagi
persekongkolah dalam memilih ketua BPM yang tidak kalah busuknya. Lantas
bagaimana kami sebagai mahasiswa mempercayai anda-anda sebagai dewan perwakilan
kami?
Organisasi eksternal
menambah semarak perebuatan kursi kekuasaan kampus. Sayangnya bukan kualitas
yang mereka munculkan tapi strategi licik.
Jika pendidikan
kampus mengajarkan moralitas politik, mengapa kalian memprektakkan politik
amoral? Jika kalian tahu mana yang baik, mengapa kalian memilih yang buruk?
Jika kalian tahu memakai kacamata hitam akan menggelapkan pandang, mengapa
kalian masih menggunakannya?
Disaat semua kampus
berlomba menjadi paling hebat, mengapa kita tetap terbelenggu standar yang
tidak menggugah hasrat? Kampus IISIP hari ini semacam kehiangan
keintelektualannya, kehilangan akal.
Tabiat buruk tidak
mengenal waktu, ia membelenggu kapan pun, siapa pun, dan kelas sosial mana
pun. Fenomena hari ini, kampus IISIP
Jakarta mencetak calon sarjana licik bukan calon sarjana terdidik. Anda yang
mengenyam bangku kuliah, tidak otomatis memiliki intelektualitas. Jikalau Anda
tidak mahami esensi pendidikan, anda hanya mesin uang yang menggerakan industri
pendidikan.
Sekian.