Minggu, 26 Maret 2017

Kartu Identitas


http://thefilosofi.blogspot.co.id/2016/04/101-falsafah-kejawen-ajaran-mencapai.html
Tulisan itu tentang obrolan saya dengan dosen hari Kamis lalu. Tentang hanya diakuinya 6 agama di Indonesia.

Selepas kelas, saya menanyakan persoalan ini kepada Pak Mus, "mengapa hanya diakui 6 agama? Mengapa kepercayaan lokal seperti kejawen dan wiwitan tidak diakui? Bukankah kepercayaan asli moyang Indonesia adalah kepercayaan tersebut?"

Inti dari jawaban Pak Mus tidak memuaskan saya. Masalah pengakuan itu hanya seputar otoritas negara yang mesti menyediakan "keperluan" peribadatan tiap agama/kepercayaan, sedangkan kepercayaan lokal yang ada di Indonesia jumlahnya cukup banyak, tentu ini akan "merepotkan".

Dan katanya pula, 6 agama yang diakui saat ini memiliki konsep ketuhanan dan kitab suci yang jelas, berbeda dengan kepercayaan lokal yang ada di Indonesia. Kepercayaan itu hanya sebatas ritual. Mungkin itu pula yang menyebabkan mereka disebut "kepercayaan" bukan "agama".

Saat ini pun negara tidak menolak kepercayaan-kepercayaan tersebut, bahkan sebagian dari kepercayaan itu telah berbaur masuk ke dalam 6 agama resmi yang diakui negara. Misalnya Islam kejawen, agama islam namun memiliki unsur kejawen yang kuat. Agama seperti itulah yang diwariskan keluarga ibu saya kepada saya, ya walaupun saya tidak sekalipun mengikuti ritual kepercayaan ini.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak masuk kedalam 6 agama ini?

Bagaimana mengisi kolom agama dalam KTP (kartu identitas)?

Untuk gambaran kasus ini saya punya cerita dari teman saya, Ibu Retno.

Ibu Retno atau biasanya kami memanggilnya Bunda, merupakan teman sekelas saya waktu awal masuk kuliah. Saya cukup akrab dengan beliau, hingga suatu ketika saya mengadd facebooknya.

Dari facebook Bunda saya mengetahui bahwa ia aktif di sebuah organisasi. Tapi saya tidak tahu itu organisasi apa. Saya kira itu organisasi keagamaan, namun tidak tertera satupun agama di dalam setiap kegiatannya. Saya hanya tahu lewat kolom komentarnya bahwa mereka mengucapkan salam dengan kata-kata "Rahayu".

Saat saya berbincang dengan Pak Mus, ia ternyata juga mengenal Bunda. Pak Mus menceritakan sedikit mengenai Bunda karna terkait dengan pertanyaan saya. Bunda tidak mau mengisi kolom agama dalam KTPnya, karna kepercayaannya tidak termasuk dalam 6 agama tersebut. Ya saya rasa organisasi yang diikuti Bunda ada kaitannya dengan kepercayaannya itu.

Saya pikir ini hal yang menarik

Saat seseorang memiliki keyakinan diluar dari ketetapan negara, bagaimanakah nasip kartu identitasnya?

Kita berandai-andai, bisa saja orang itu menuliskan kolom agamannya secara asal-asalan, atau bahkan mengosongkanya sekalipun. Tapi saya rasa itu bukan pilihan baik.

Jika seseorang memilih untuk mengisi asal-asalan atau mengosongkan kolom agamanya, saya rasa itu hanya akan menghasilkan sebuah kartu tanpa nilai. Kartu identitas hanya perkara administrasi tapi tidak menunjukan identitas pemiliknya. Kartu itu bisa disebut "kartu identitas" namun secara intrinsik tidak mengandung identitas atau memiliki kekosongan identitas.

Solusinya?

Hmm saya belum bisa menawarkan solusi yang Oke Oce untuk masalah ini. Saya hanya berpendapat bahwa kolom agama dalam kartu identitas harus ditulis sesuai dengan identitas pemiliknya. Pendapat saya ini tidak mempertimbangkan masalah regulasi negara dan sebagainya.

Memaksakan berbaurnya kepercayaan setempat dengan agama yang diakui negara saya rasa itu bentuk kemunafikan. Sedangkan memalsukan identitas diri dalam kartu identitas resmi negara adalah kejahatan. Dan mengosongkan kolom agama dalam kartu identitas bukan sebuah pilihan.

Yakinilah apa yang kamu yakini.

Sekian.

Kamis, 09 Maret 2017

Puskesmas Kebon Jeruk

Belakangan ini mata saya agak bermasalah, mungkin minus atau silinder. Saya memutuskan untuk mengecek kondisi mata saya di Puskesmas Kebon Jeruk. Puskesmas Kebon Jeruk berada di jantung Kecamatan Kebon Jeruk sebab semua fasilitas umum berada di kawasan ini. 

Polsek dan Kantor Kecamatan Kebon Jeruk
Saya memilih puskesmas tersebut karena membaca blog ini  http://ron-motz.blogspot.co.id/2009/08/pengalaman-berobat-ke-puskesmas-kebon.html

Kenapa tidak mengecek ke optik?

Karena saya selalu mikir optik itu jualan kacamata bukan dokter mata. Ya sebenarnya ini cuma saya yang terlalu parno aja sih hehee

Ini bukan pertama kalinya saya ke puskesmas Kebon Jeruk. Sekitar dua tahun yang lalu saya juga kesini untuk meminta surat keterangan sehat sebagai prasyarat kegiatan yang akan saya ikuti. Tapi meskipun sudah pernah kesini tetap saja saya bingung.

Di depan pintu masuk puskesmas berdiri satpam yang siaga membantu pengunjung. Saya ditanya mau berobat apa, saya jawab "mau ngecek mata Pak". Tapi ternyata poli mata sudah tidak ada dan saya disarankan untuk menuju ke poli umum. Berhubung saya nggak paham sama masalah beginian, akhirnya saya ngikutin kata si Bapak saja.

Struk Pembayaran, cuma 2000!!!
Setelah membayar di loket dan mengantri giliran untuk bagian poli umum, ternyata disini sama sekali tidak bisa perikasa mata. Yah kecewa deh gue....

Gak kecewa banget sih sebenarnya. Saya sempat mengobrol dengan tenaga medis yang mengecek tensi darah saya. Dia bilang katanya dulu memang ada poli mata dll (saya lupa apa aja), tapi sudah ditutup.

Katanya hal itu dikarenakan Puskesmas Kebon Jeruk sering dianggap rumah sakit, karena fasilitas kesehatannya yang bisa dibilang cukup lengkap dan kualitasnya sebanding dengan rumah sakit. Oleh karena itu beberapa poli akhirnya ditutup oleh dinas atau apalah, saya kurang tau untuk kewenangan ini.

Terus mendadak saya bingung.....

Emang apa salahnya kalo puskesmas punya fasilitas kesehatan yg lengkap? Bukannya bagus? Dari segi harga pun puskesmas jauh lebih menjangkau semua lapisan masyarakat bukan? Kok ya fasilitas yg udah baik malah dikurangin. Heran.

Sebenarnya pihak Puskesmas sudah mengajukan diri untuk menjadi Rumah Sakit Umum Kecamatan (RSUK) tapi katanya belum disetujui karena lahan parkir yang terbatas. Lah lah lah..... Masa gitu????? Alasan yang agak konyol sih buat saya.

Saya sempat berkeliling sebentar untuk mengambil beberapa gambar kondisi puskesmas 3 lantai ini.

loket pembayaran



Poli Manula di lantai 1


disediakan kursi roda bagi para pasien


Walaupun saya batal periksa mata, tapi jalan-jalan kecil hari ini ternyata cukup menyenangkan juga. Semoga saja semua puskesmas yanga ada di Indonesia dapat sebaik ini.

Sekian. 

website puskesmas kebon jeruk : http://www.puskesmaskebonjeruk.com/

Sabtu, 04 Maret 2017

Pangan


http://tabloidjubi.com/img_berita/53nusa-2-kiri_sawah.jpg
Hari ini saya mulai masuk kelas Sistem Poitik Asia Tenggara. Mata kuliah Sistem Politik Asia Tenggara tak ubahnya mata kuliah politik lain yang sering kali bahasannya menjadi ngalor-ngidul. Bahasan kali ini sedikit menyinggung masalah pangan dan mobil Esemka, tapi untuk tulisan saya hanya akan membahas tentang masalah pangan.

Tulisan ini banyak mencakup opini pribadi saya jadi untuk para pembaca tidak usah diambil pusing, toh ini hanya opini.

Pak Banu menanyakan, mengapa saat ini Indonesia tidak bisa swasembada pangan seperti masa Orde Baru? Mengapa indonesia lebih memilih impor dalam hal pangan?

Dengan ilmu sotoy saya pun menjawab, "karna ada anggapan bahwa impor lebih murah daripada memproduksi sendiri". Nampaknya jawaban saya ini tidak salah, meskipun tidak sepenuhnya benar pula.

Berbicara soal pangan mengingatkan saya dengan iklan di Metro TV beberapa tahun lalu. Iklan itu menunjukkan gambar tumpeng beserta lauk pauk dipinggirnya. Tampilan tumpeng seperti biasa, hanya saja tiap bagian tumpeng ditandai dengan bendera kecil yang bertuliskan "impor". Iklan itu sarkastik sekali, tapi oke juga lah ya.

Mengapa saat ini Indonesia tidak bisa swasembada pangan?

Pertanyaan ini mengusik pikiran saya, sungguh. Masihkah kail dan jalan cukup menghidupi? Masih bisakah kah tongkat kayu dan batu jadi tanaman? Dan masih pantaskah tanah ini disebut tanah surga seperti yang dikatakan Koes Plus?

Memangnya memilih menjadi negara agraris itu menjadi sebuah keterbelakangan?

Saya tidak pernah paham mengapa banyak negara berlomba-lomba mendapatkan titel "negara maju", dengan berbagai indikator yang mesti dipenuhi. Indikator yang membuat warga negaranya berjuang sampai hampir mampus. Memangnya pengakuan sebagai negara maju itu penting?

Mengapa menggunakan parameter negara lain sebagai acuan kemajuan suatu bangsa?
Mengutamakan ekonomi dan kemajuan tekonologi yang jelas-jelas sebaik apapun kita mengikuti konsep mereka, kita akan selalu tertinggal satu langkah di belakang mereka.

Mengapa menjadi negara agraris tidak menjadi sebuah kebanggan?

Bukankah semua orang butuh makan?

Indonesia sebagai negara agraris yang saya pelajari saat SD semakin menjauh dan menjadi negara industri atau apalah namanya. Intinya saya tidak suka dengan konsep kekinian ini.

Impor pangan.

Dua kata itu adalah hal konyol bagi saya. Impor pangan di negara yang begitu subur ini?

Berbicara mengenai kultur pangan masyarakat Asia Tenggara, dalam bukunya  Anthony Reid menjelaskan bahwa kegagalan pangan atau padi-padian tidak pernah menimbulkan akibat parah seperti yang dialami oleh negeri yang lebih maju tapi tidak menentu ketersediaan pangannya. Kecuali sebagai akibat perang, kelaparan tampaknya tidak pernah memusnahkan penduduk Asia Tenggara seperti yang menimpa penduduk Cina dan India pada kurun waktu yang sama.

Secara historis kita bisa melihat bahwa tanah di gugusan Asia Tenggara ini begitu melimpah akan pangan. Terdapat alternatif lain dalam pemenuhan gizi termasuk soal makanan pokok.

Lalu mengapa kita mesti impor?

Bukankan kita punya kampus IPB sebagai pencetak para sarjana pertanian, kemana perginya mereka? Ke bank? Ehe....

Impor pangan bukan sebuah solusi untuk mempertahankan ketahanan pangan bangsa ini. Jika negara mengnginginkan masyarakatnya menjadi individu yang konsumtif, silahkan bangun mall. Tapi jika ingin bangsanya menjadi produktif maka cetaklah persawahan dan perkebunan rakyat.

Disini saya tidak mempertimbangkan faktor ekonomi , regulasi atau bahkan perjanjian internasional. Saya hanya memiliki anggapan bahwa kita berasal dari hulu yang berbeda dengan mereka, lantas mengapa kita harus mengikuti arus bangsa mereka?

Bergantung dengan impor pangan sama saja seperti ayam yang mati di lumbung padi. Meski pun belum sepenuhnya mati, yg jelas ia sekarat.

Sekian.

Refrensi :
Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Waktu Niaga 1450-1680, jilid 1: Tanah di Bawah Angin

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...