Sabtu, 28 Januari 2017

Tiara dan Fabian


sumber: http://www.rotoscopers.com/2014/05/06/how-the-married-life-opener-elevates-up-to-animations-greatest-heights/
Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini masih belum bisa tidur. Iseng saya nonton tv, sebuah FTV di SCTV yang entah judulnya apa. FTV tengah malem begini sering kali bagus, mangkanya saya memilih menghabiskan sebagian waktu malam saya untuk menyimak kisah cinta-cintaan ala anak muda ini.

FTV ini mengambil latar tepat di Bali. Saya tidak kenal siapa pemainnya, yang jelas mereka sudah seringkali seliweran di berbagai FTV. Akting dari kedua pemeran utama biasa aja. Tampilan gambar FTV keseluruhan juga biasa. Tapi jalan ceritanya mengena ke perasaan saya. Cerita yang sederhana sebenarnya tapi menyentuh. Mungkin karna ceritannya memiliki kemiripan dengan kisah cinta saya dulu heheeeee

Tiara, untuk ketiga kainya kabur di hari pernikahaannya. Dia tidak yakin dengan setiap laki-laki karena trauma akibat perceraian kedua orang tuannya. Dia kabur dan bertemu Fabian. Lelaki yang meninggalkan tunanggannya karna diramal akan segera mati.

Mereka makan bersama lalu bercerita tentang apa yang mereka alami. Mereka tertawa menumpahkan semua kekonyolan kisah mereka.

Malam ini adalah tanggal dimana Fabian diramalkan akan mati dan ramalan itu terbukti salah.  Malam ini Fabian dan Tiara menghabiskan malam di sepanjang pantai, ditemani deburan ombak dan hanggatnya api unggun. Fabian mulai mencintai tiara, entah rasa itu mucul dari mana. Tiara tidak percaya. Tiara selalu saja ragu dengan laki-laki yang berkata mencintainya. Tapi benih cinta untuk Fabian ada di diri Tiara.

Esok pagi mereka berpisah. Besok sorenya mereka janjian untuk bertemu di Tanah Lot. Sebelum berpisah Tiara menitipkan sebuah catatan untuk Fabian. Catatan-catatan kecil yang ditulis di balik struk pembayaran.

Catatan pertama berisi keraguan Tiara dengan cintanya. Yang diakhir catatan tertulis "jika ini cinta, katakan aku mencintainya"

Lalu catatan kedua, "walau tidak sampai 24 jam tetap saja namanya cinta".

Sambil berjalan menjauh dari Fabian, Tiara berpikir tentang keraguannya. Cinta memang selalu penuh  keraguan, kalau tidak ragu itu bukan cinta.

Naas setelah perpisahan itu Tiara tertabrak mobil dan harus kehilangan sebelah kakinya. Esoknya ia tidak bisa menemui Fabian di Tanah Lot. Fabian menunggu dengan penuh kekecewaan sembari memegangi kotak cincin yang akan diberikan untuk Tiara.

Waktu terus berlalu, tanpa ada kabar dari keduannya.

Fabian kini menjadi penyanyi, Tiara melihat Fabian di tv. Tiara mengirimkan jam pasir kepada Fabian. Jam pasir memiliki kenangan bagi mereka. Mengingatkan waktu ramalan kematian Fabian. Mengingatkan kata-kata Fabian yang akan mencintai Tiara hingga 2070.

Selang waktu berlalu, Fabian menemukan Tiara. Dengan keadaan Tiara yang kini tidak sempurna, janji cinta Fabian masih tetap sama. Mencintai Tiara untuk waktu yang sangat lama.

Ya memang benar, walau tidak sampai 24 jam tetap saja itu namanya cinta. Jangan pertanyakan seberapa cepat dia datang, cukup rasakkan seberapa lama ia akan bertahan.

FTV ini semakin ciamik dengan latar belakan musik dari Naff berjudul Akhirnya Ku Menemukanmu

Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini mulai meragu
Ku berharap engkaulah jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku mencintaimu hingga ujung usiaku

Bila nanti ku sanding dirimu, miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau disampigku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku

Intinya FTV ini bikin saya baper tengah malem!

Sekian.

Jumat, 27 Januari 2017

Istirahatlah Kata-Kata


Istirahatlah kata-kata, sebuh film yang menceritakan masa pelarian Wiji Thukul di Pontianak. Keresahan, ketakutan dan kerinduan sangat kental dalam setiap adegan. Bagi saya yang awam tentang perfilman, saya rasa film ini cukup sempurna. Penonton bisa dibawa hanyut kedalam kehidupan Wiji Thukul. Hanyut dalam kerinduan Sipon kepada suaminya. Hanyut dalam kerinduan Fitri akan bapaknya dan hanyut dalam nyanyian getir Fajar di akhir filmnya,

seumpama bunga, kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh.........".

Sejujurnya saya lebih menikmati adegan-adegan Sipon yang penuh kegelisahan dan kecemasan, hal yang jarang diulik dalam buku-buku hilangnya Thukul. Terlebih di akhir film saat adegan Sipon dianggap lonte oleh tentangganya. Dengan isak tangis dia berkata kepada Thukul,

Aku tidak ingin kamu pergi
Aku juga tidak ingin kamu pulang
Aku hanya ingin kamu ada

Sungguh ini adegan luar biasa, mengguras emosi secara visual dan makin lengkap dengan kata-kata penuh makna.

Selama empat hari pemutaran film Istirahatlah kata-kata, saya memantau komentar orang-orang. Di facebook saya yang kebetulan banyak orang-orang yang bergelut dengan dunia pergerakan, film ini mempunyai kesan yang baik. Seperti yang saya bilang tadi bahwa film ini mampu membawa penonton hanyut ke dalam kehidupan Wiji Thukul. Mereka puas dengan film ini.

Film ini akan sangat berkesan bagi mereka yang mengenal atau setidaknya tahu siapa Wiji Thukul. Tapi bagi yang belum tahu saya rasa mereka tidak akan puas dan bertanya-tanya, mengapa bisa begini, mengapa bisa begitu.

Tapi bagi saya yang lahir setelah runtuhnya orde baru, ada ruang kosong yang tidak dapat diisi dalam menikmati film ini.  Mengenal sosok Wiji Thukul lewat buku saja tidaklah cukup untuk merasakan "roh" dari film ini. Saya tidak bisa menikmati secara penuh kegelisahan Thukul dalam masa pelarian, karena kami tidak pernah merasakan hidup dimasa penuh ketakutan itu.

Selasa lalu saya kembali menonton Film istirahatlah kata-kata. Untuk yang kedua kali ini, makna dan rasa dari film tersebut semakin mendalam. Tapi tetap saja ruang kosong itu tidak dapat terisi.

Selepas itu, diadakan sebuah acara yang dinamakan Ngamen Puisi. Puisi-puisi Wiji Thukul dibacakan, bahkan puisi siapapun boleh dibacakan dalam panggung ini. Semua penuh antusias. Penampilan paling berkesan tentu dari kedua anak Thukul, Fitri dan Fajar. Pembacaan puisi oleh Fitri yang diiringi alunan lagu oleh Fajar. Mata mereka berbinar, penampilan yang menguras emosi dan sangat ciamik.

Terlepas dari semua yang nampak, ada sesuatu mengusik jiwa. Masihkah Wiji Thukul ada?


Sekian.

Kamis, 19 Januari 2017

Opera Indonesia, Presiden Broto Dimas

Opera Indonesia. Buku yang secara visual tidak cukup menarik. Disain sampul yang saya rasa "biasa banget". Ditulis oleh seorang anggota DPR periode 2004-2009 bernama Joko Santoso HP.

Satu-satunya alasan saya beli buku ini karena ada komentar dari Eep Saefulloh Fatah di cover belakang. Eep Saefulloh Fatah yang kumpulan tulisannya telah diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul Mencintai Indonesia dengan Amal. Didalamnya termuat banyak kalimat "cantik"

Salah satunya,

Newmont tengah bersiap menambang, menambang dan menambang untuk akhirnya mendulang tiga jenis komoditas: uang, duit dan fulus.

Saya rasa Mas Eep punya selera tulisan yang setipe dengan saya, atas dasar itulah saya membeli buku ini.


Buku ini diawali dengan sebuah pesan dari penulis berbunyi, "Kupersembahkan kepada mereka yang tetap tangguh menjaga idealisme, apapun situasinya". Sebuah pesan yang membuat dahi berkerut. Seperti apa idealisme yang dimaksud?

Kisah ini diceritakan Jeihan dengan Subjek utamannya Broto Dimas. Diawali dengan gambaran gelora pergerakan mahasiswa pada masa Orde Baru. Dua sahabat ini memiliki idealisme mahasiswa yang begitu kokohnya untuk membela kepentingan rakyat. Romantise yang dibangun bukan hanya seputar cinta kepada negara dan rakyat tapi juga dengan kekasih mereka, Rastri dan Miranti.

Karna aktifitasnya ini akhirnya Broto menjadi tapol karna ditengarai menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam peristiwa Malari. 11 bulan ia mendekam di penjara. Setelah bebas dia meneruskan pendidikan di Belanda.

Kembalinya ke Indonesia ia memulai karir politiknya. Puncaknya ketika ia menang dalam pemilu dan menjadi presiden ke 7 Indonesia. Dia memasang Chiphumzila kepada seluruh jajaran kabinetnya. Chiphumzila adalah sebuah chip yang di selipkan di dalam tubuh  yang dapat merekam aktifitas seseorang. Ini adalah terobosan yang dibuat oleh Presiden Broto dengan mengadopsi teknologi dari Mexico.

Trobosan ini disambut dengan pro dan kontra di masyarakat. Namun seiring jalan bisa di terima bahkan diapresiasi oleh seluruh rakyat karena dengan adanya Chiphumzila para pejabat tidak berani lagi korupsi karena selalu dimonitoring. Broto Dimas dianggap berhasil menumpas kejahatan korupsi di Indonesia. Tapi menjelang akhir kepemimpinannya ia diduga diracun dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Indonesia berkabung kehilangan mataharinya.

Secara garis besar yang buku ini bercerita tentang perjuangan seorang aktivis mahasiswa yang kemudian aktif di dalam politik dan menjadi presiden. Gaya penulisannya pun mudah dicerna karena tidak banyak istilah yang membingungkan. Cerita yang sederhana, namun konflik yang dibangun dalam setiap prosesnya ini yang saya anggap menarik.


Bagaimana Broto Dimas yang lahir dari keluarga militer namun memilih menjadi pemuda yang memberontak pada pemerintahan Orde Baru

Bagaimana Kisah cinta Broto Dimas yang tidak direstui ayah kekasihnya karena dianggap sebagai seorang pemberontak yang tidak punya masa depan

Bagaimana aktivitasnya dalam mengorganisir gerakan mahasiswa

Bagaimana idealisme mahasiswanya membawa dia ke dalam penjara dan menyandang gelar tahanan politik

Bagaimana Broto Dimas membangun partai baru selepas tumbangnya Orde baru

Bagaiman Broto dimas dikelilingi orang-orang berkepentingan dalam Pilpres, ibarat cahaya yang dikerubuti laron.

Bagaimana partainya membuat strategi untuk memenangkan pemilu

Bagaimana  Broto Dimas menghadapi serangan dalam pemilu terkait perkawinan beda agama

Bagaimana perdebatan penggunaan jilbab bagi istri broto dimas (istrinya Non Muslim)

Bagaimana cara Broto dimas menjalankan kekuasaannya dan menghapus korupsi di Indonesia


Semua konflik dalam buku ini bersumber pada satu jawaban yaitu idealisme Broto Dimas. Bagaimana idealisme seorang aktivis mahasiswa yang tetap bertahan hingga ia memangkku jabatan sebagai Presiden bahkan hingga akhir hayatnya. Oleh sebab itu buku ini memang pantas dipersembahkan untuk orang-orang yang tetap menjaga idealisme apapun situasinya.

Saya suka dengan buku ini, tidak sedikitpun kecewa. Saya mungkin harus belajar untuk lebih paham bahwa setiap karya yang tercipta punya keindahannya sendiri.


Sekian.




Jumat, 13 Januari 2017

Dari awal

Entah mengapa akun google saya tidak dapat diakses. Ini mumbuat kesal. Akhirnya saya membuat akun google baru dan blog baru pula. Tulisan-tulisan saya sebelumnya dapat dilihat di apreliaa.blogspot.com

Sekian.

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...