Jumat, 24 Februari 2017

Pak Mus


http://keywordsuggest.org/gallery/552121.html
Semester ini saya mengambil mata kuliah Masyarakan Asia Tenggara. Teman sekelas kebanyakan junior saya , karena teman-teman seangkatan saya sudah mengambil mata kuliah ini di semester 2. Sebagian dari  mereka sudah ada yang saya kenal, bahkan seorang dari mereka memanggil saya "Kak Cans" alias kakak cantik wkwkwkkw, agak lebay ye.... Tapi secara keseluruhan mereka asik lah ya.

Biasanya mata kuliah ini diajar Pak Daryani, namun semester ini diajar oleh Pak Mustofa. Kata senior sih Pak Mustofa kader PKS dan anti Ahok, tapi ini katanya loh ya! Saya tidak tahu banyak soal dosen ini karena baru kali ini saya diajar oleh beliau.  Pak Mustofa atau biasa dipanggil Pak Mus lulusan Ilmu Politik UIN lalu melanjutkan studinya di sebuah Universitas di Malaysia.

Di minggu pertama ini belum banyak materi yang dibahas, hanya berbincang seputar pengantar mata kuliah. Pengantar yang cukup menarik tentang diaspora masyarakat China di kawasan Asia Tenggara. Sebuah singgungan yang cukup halus tentang mulai masuknya Etnis Tionghoa dalam pemerintahan Indonesia. Ya secara tidak langsung pasti ini soal Ahok Ahok lagi, tapi Pak Mus menggambarkan ini dalam bentuk lebih luas dan tidak menjustifikasi satu orang.

Ketertarikan saya dimulai saat membahas Malaysia.

Sebuah peraturan tentang pembatasan hak Etnis Non-pribumi yang tidak boleh berkecimpung dalam pemerintahan. Lalu kebijakan New Economic Policy (NEP) yang dikatakan terlalu berpihak kepada Etnis Melayu. Saya perlu mempelajari lebih banyak karna saya belum terlalu yakin dengan dua kalimat tersebut.


Dari berbagai sumber yang saya baca saya menangkap beberapa hal,

Pertama, dominasi etnis Tionghoa dalam Ekonomi yang dikatakan Etnis melayu  terlalu "serakah"
Kedua, kalah saingnya Etnis Melayu (pribumi) dengan etnis Non-Pribumi
Ketiga, ketakutan dominasi Etnis Non Pribumi terhadap kehidupan di Malaysia
Keempat, adanya stereotip negatir antar etnis tersebut

Gabungan dari tiga domain Ekonomi - Antropologi - Sejarah saya rasa menjadi kesatuan maut untuk mengupas masalah ini. Tapi berhubung studi saya tentang ilmu politik, dosen saya menarik sedikit garis untuk meninjau hal tersebut dalam sudut pandang politik.

Ini tentang kedaulatan.

Selama ini kita tahu bahwa Etnis Tionghoa selalu gagah dalam bidang ekonomi. Deretan orang terkaya pun banyak dari kelompok mereka. Etnis Melayu di Malaysia sudah lama kalah dalam persaingan ekonomi di negerinya. Jika membiarkan Etnis Non Pribumi  memasuki pemerintahan, lalu dimana letak kedaulatan bagi negaranya atau bagi penduduk aslinya? Oleh sebab itu disana terdapat sebuah hak khusus yang diberikan kepada masyarakat pribumi untuk memerintah negara.

Hal ini dihubungkan Pak Mus dengan keadaan Jakarta sekarang. Saya rasa ini salah satu alasan yang menyebabkan secara subjektif Pak Mus ogah memilih Ahok terlepas keberpihakan politiknya.

Saat sebuah wilayah kekuasaan dipimpin oleh seseorang di luar etnis masyarakat aslinya, apakah mereka akan kehilangan kedaulatannya?

Sejujurnya saya tidak menagkap maksud dari hak khusus Etnis Melayu di Malaysia. Saya semacam gagal paham.

Masalahnya seseorang tidak dapat memilih lahir dalam kelompok etnis tertentu, lalu mengapa setelah dia hidup dia dibatasi atas dasar etnis yang melatarbelakangi dirinya?

Saya melihat bahwa masyarakat melayu dalam hal ini memiliki ketakutan yang besar akan keberadaan Etnis Tionghoa. Ketakutan yang tidak dilawan dengan kekuatan yang menyeimbangi namun dengan pemberian hak khusus. Mereka dianggap semacam penjajah kecil yang masih tertinggal setelah kemerdekaan. 

Hal ini tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Masalah rasial selalu saja terjadi. Pikir saya semua ini bukan sekedar masalah kulit putih dan mata sipit, tapi lebih jauh soal ekonomi dan warisan mental pasca kolonial.

Kita tahu bahwa kedudukan masyarakat Non Pribumi lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat Pribumi saat penjajahan dulu. Aktifitas ekonomi mereka juga lebih baik karena ditopang oleh perdagangan. Ketimpangan ekonomi ini pasti memicu cemburu sosia dan inilah yang diwariskan hingga sekarang. Kebencian antar etnis ini bukan baru belakangan ini terjadi, tapi bibit kebencian itu sudah ditanam ratusan tahun lamanya. Jadi tidak perlu heran.

Yang saya tidak paham sampai saat ini, Mengapa seseorang senang sekali menyimpan benci dan luka masa lalu? Mengapa masih membiarkan diri terbelenggu dengan mental terjajah?


Sekian.

Minggu, 12 Februari 2017

Lacur


Kini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum, kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang

Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman

Apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya
Apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyabung nyawa

Ini sepengal lagu Kupu-Kupu Malam ciptaan Titiek Puspa. Lagu yang cocok menjadi pembuka dalam tulisan kali ini.

Beberapa hari lalu saya baru saja menamatkan sebuah novel berjudul Re:, karya Maman Suherman. Saat itu Herman masih menjadi mahasiswa Kriminologi Universitas Indonesia. Novel ini kisah nyata dari proses penulisan skripsi Herman yang mengangkat kasus pelacuran, dengan Re sebagai narahubungnya. 

Re; berlatar belakang tahun 1989, namun setelah 25 tahun kemudian menurut Heran tidak banyak yg berubah. Hanya bentuk dan kemasannya yg berubah, tapi esensi dan isi masalahnya tetap sama.

Novel ini diawali dengan cerita Sinta (teman Re) yang dibunuh. Lalu Herman semakin masuk kedalam dunia pelacuran yang selama ini tidak pernah ia bayangkan. Dari berbagai temuan lapangan, Herman membuat klasifikasi menurut jenis kelamin. Menurutnya, di Jakarta dan berbagai kota besar lainnya yang berkembang bukan hanya pelacur perempuan tapi juga laki-laki bahkan banci. Jadi selain Wanita Tuna Susila (WTS), seharusnya ada juga istilah Lelaki Tuna Susila (LTS ) dan Banci Tuna Susila (BTS).

Ketika saya membaca buku ini, saya jadi ingat Wandi/Winda yang pernah saya ceritakan di sini https://apreliaa.blogspot.co.id/2016/10/sebut-saja-dia-wandi-dan-winda.html . Ya saya tahu bahwa Wandi/Winda bukan hanya ngamen sebagai banci, namun juga sebagai Banci Tuna Susila (BTS) seperti yang diklasifikasikan Heran.

Selain hasil temuan Herman yang kelak dimasukkan ke dalam skripsinya, novel ini lebih banyak menyajikan kehidupan Re;. Berbagai hal yang Herman ceritakan merupakan kisahnya dari awal bertemu Re hingga Ia menjadi supir Re bahkan sampai Re meninggal (dibunuh).

Sebuah kalimat pilu terucap dari mulut Re sesaat setelah menceritakan kecurigaan atas kematian Sinta, " lonte itu sepertinya saja hidup karena masih bernapas, padahal sudah mati. Sering dianggap bukan manusia. Kalau sudah tidak diperlukan, dibuang begitu saja. Dikejar-kejar seperti coro. Diinjak-injak sampai nggak berbentuk!"

Cukup segitu saya menceritakan tentang buku ini, saya pikir lebih baik kalian membacanya langsung.


Kemarin saya bertemu Ebi, yang saat ini menjadi salah satu mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta. Dia bercerita kepada saya bahwa saat ujian kemarin dia disuruh menggambar anatomi tubuh perempuan.

Saat itu pula di dalam kelas dihadirkan seorang perempuan dengan keadaan hampir telanjang. Hanya bagaian kelaminnya saja yang tertutup bahan. Teman saya itu tercengang dengan ujiannya kali ini. Dia bilang bahwa perempuan itu dijadikan objek gambar selama 45 menit dengan bayaran hanya 750.000!!!! Ini gila pikir saya!

Atau cerita dari Bu Risma (Walikota Surabaya) yang pernah berdialog dengan warganya di kawasan Dolly. Dalam sebuah liputan Ibu Risma bercerita bahwa ia pernah bertemu dengan seorang nenek-nenek yang masih menjadi pekerja seks.

Saat ditanya Bu Risma "diusia setua ini pelanggannya siapa?"
Nenek itu menjawab, "ada bu, biasanya anak-anak".
"memannya mereka bayar berapa?"
"dibayar dua ribu juga saya terima Bu.

Ibu Risma menitihkan air mata seketika. Saya kira kalau saya secara langsung mendengar cerita dari nenek itu saya juga bakalan nangis termehek-mehek. Ini sangat miris.

 Meski sudah banyak mendengar cerita seperti ini, saya masih selalu tercengang. Saya sering berpikir tentang kehormatan perempuan. Dari cara berbicara, berpakaian, bahkan tingkah lakunya. Tapi semakin saya masuk ke dalam kisah-kisah itu, saya semakin paham bahwa nyatanya kehormatan hanya omong kosong bagi mereka yang "bingung" bagaimana caranya agar besok mulutnya tetap tersumpal makanan.

Benar kata Titiek Puspa, yang mereka tahu hanyalah bagaimana menyambung nyawa.


Mengutip sebuah pesan dari novel Re:

Pernah kutanya,
Adakah surga untuk Re yang bergelimpang dosa?
Jawabmu, semua orang berkalung salah dan dosa
Tak ada yang bisa jangkau surga,
Kecuali karna ampunanNya
Re:, katamu, Tuhan bagi siapa saja!

Man,
Kalau mau ikut surgakan aku,
Tuntaskan skripsimu
Tulis apa adanya, kabarkan tentangku
Dan tentang duniaku


Sekian.

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...