![]() |
| http://keywordsuggest.org/gallery/552121.html |
Semester ini saya
mengambil mata kuliah Masyarakan Asia Tenggara. Teman sekelas kebanyakan junior
saya , karena teman-teman seangkatan saya sudah mengambil mata kuliah ini di
semester 2. Sebagian dari mereka sudah ada
yang saya kenal, bahkan seorang dari mereka memanggil saya "Kak Cans"
alias kakak cantik wkwkwkkw, agak lebay ye.... Tapi secara keseluruhan mereka
asik lah ya.
Biasanya mata kuliah
ini diajar Pak Daryani, namun semester ini diajar oleh Pak Mustofa. Kata senior
sih Pak Mustofa kader PKS dan anti Ahok, tapi ini katanya loh ya! Saya tidak
tahu banyak soal dosen ini karena baru kali ini saya diajar oleh beliau. Pak Mustofa atau biasa dipanggil Pak Mus
lulusan Ilmu Politik UIN lalu melanjutkan studinya di sebuah Universitas di
Malaysia.
Di minggu pertama
ini belum banyak materi yang dibahas, hanya berbincang seputar pengantar mata
kuliah. Pengantar yang cukup menarik tentang diaspora masyarakat China di
kawasan Asia Tenggara. Sebuah singgungan yang cukup halus tentang mulai
masuknya Etnis Tionghoa dalam pemerintahan Indonesia. Ya secara tidak langsung
pasti ini soal Ahok Ahok lagi, tapi Pak Mus menggambarkan ini dalam bentuk
lebih luas dan tidak menjustifikasi satu orang.
Ketertarikan saya
dimulai saat membahas Malaysia.
Sebuah peraturan tentang pembatasan hak Etnis
Non-pribumi yang tidak boleh berkecimpung dalam pemerintahan. Lalu kebijakan
New Economic Policy (NEP) yang dikatakan terlalu berpihak kepada Etnis Melayu.
Saya perlu mempelajari lebih banyak karna saya belum terlalu yakin dengan dua
kalimat tersebut.
Dari berbagai sumber
yang saya baca saya menangkap beberapa hal,
Pertama, dominasi
etnis Tionghoa dalam Ekonomi yang dikatakan Etnis melayu terlalu "serakah"
Kedua, kalah
saingnya Etnis Melayu (pribumi) dengan etnis Non-Pribumi
Ketiga, ketakutan
dominasi Etnis Non Pribumi terhadap kehidupan di Malaysia
Keempat, adanya
stereotip negatir antar etnis tersebut
Gabungan dari tiga
domain Ekonomi - Antropologi - Sejarah saya rasa menjadi kesatuan maut untuk
mengupas masalah ini. Tapi berhubung studi saya tentang ilmu politik, dosen
saya menarik sedikit garis untuk meninjau hal tersebut dalam sudut pandang
politik.
Ini tentang
kedaulatan.
Selama ini kita tahu
bahwa Etnis Tionghoa selalu gagah dalam bidang ekonomi. Deretan orang terkaya
pun banyak dari kelompok mereka. Etnis Melayu di Malaysia sudah lama kalah
dalam persaingan ekonomi di negerinya. Jika membiarkan Etnis Non Pribumi memasuki pemerintahan, lalu dimana letak
kedaulatan bagi negaranya atau bagi penduduk aslinya? Oleh sebab itu disana
terdapat sebuah hak khusus yang diberikan kepada masyarakat pribumi untuk
memerintah negara.
Hal ini dihubungkan
Pak Mus dengan keadaan Jakarta sekarang. Saya rasa ini salah satu alasan yang
menyebabkan secara subjektif Pak Mus ogah memilih Ahok terlepas keberpihakan
politiknya.
Saat
sebuah wilayah kekuasaan dipimpin oleh seseorang di luar etnis masyarakat
aslinya, apakah mereka akan kehilangan kedaulatannya?
Sejujurnya saya
tidak menagkap maksud dari hak khusus Etnis Melayu di Malaysia. Saya semacam
gagal paham.
Masalahnya seseorang
tidak dapat memilih lahir dalam kelompok etnis tertentu, lalu mengapa setelah
dia hidup dia dibatasi atas dasar etnis yang melatarbelakangi dirinya?
Saya melihat bahwa
masyarakat melayu dalam hal ini memiliki ketakutan yang besar akan keberadaan
Etnis Tionghoa. Ketakutan yang tidak dilawan dengan kekuatan yang menyeimbangi
namun dengan pemberian hak khusus. Mereka dianggap semacam penjajah kecil yang
masih tertinggal setelah kemerdekaan.
Hal ini tidak jauh
berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Masalah rasial selalu saja terjadi.
Pikir saya semua ini bukan sekedar masalah kulit putih dan mata sipit, tapi
lebih jauh soal ekonomi dan warisan mental pasca kolonial.
Kita tahu bahwa
kedudukan masyarakat Non Pribumi lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat
Pribumi saat penjajahan dulu. Aktifitas ekonomi mereka juga lebih baik karena
ditopang oleh perdagangan. Ketimpangan ekonomi ini pasti memicu cemburu sosia
dan inilah yang diwariskan hingga sekarang. Kebencian antar etnis ini bukan
baru belakangan ini terjadi, tapi bibit kebencian itu sudah ditanam ratusan
tahun lamanya. Jadi tidak perlu heran.
Yang saya tidak
paham sampai saat ini, Mengapa seseorang senang sekali menyimpan benci dan luka
masa lalu? Mengapa masih membiarkan diri terbelenggu dengan mental terjajah?
Sekian.

