![]() |
| https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg |
Beberapa minggu lalu
seperti biasanya saya melewati jalan Rawa Belong untuk menuju rumah. Pasar
bunga terbesar seantero Jakarta ini menawarkan pemandangan cantik yang berbeda
dengan pasar biasanya. Di sana kau tak akan menemukan sayur dan ikan, satu-satunya
yang kau temukan hanya kembang alias bunga!
Pedagang kecil suka
menjajakan bungan-bungannya di pinggir jalan, sepanjang rute mikrolet M11 yang
biasa saya lewati. Berbagai macam bunga, saya tidak tahu namanya yang jelas
semuannya cantik.
Suatu ketika saya
melihat pedagang sedang menghilangkan duri dari setangkai mawar merah. Mawar
merah yang biasanya diidentikan dengan lambang cinta dan kasih sayang itu.
Mengapa pedagang itu
menghilangkan duri mawar?
Mungkin alasannya
agar duri itu tidak melukai pembelinya.
Melihat pedagang
yang menghilangkan duri itu membuat saya berpikir. Pada suatu bentuk yang
indah, ia sering kali dan mampir selalu memiliki sisi buruk. Seindahnya bunga
mawar, ia tetap berduri! Itu realitas yang tidak dapat dipungkiri.
Ia indah dipandang
sekaligus ia juga bisa melukai. Mawar dan durinya adalah simbolisasi realitas
hidup bukan hanya tentang cinta dan kasih sayang.
Menghilangkan duri
pada mawar sama saja menolak realitas yang menyatakan bahwa segala sesuatu
dalam hidup tidak melulu indah. Mawar yang tidak berduri bukan lagi simbolisasi
realitas kehidupan, tapi ia menjadi simbol kemunafikan. Ia menutipi segala yang
buruk, padahal sisi buruk itu adalah bagian dari diri yang tidak dapat
dipisahkan. Mawar ya pasti berduri!
Oh tapi kan
mawar-mawar ini hanya sebuah komoditi yang diperjual-belikan. Peduli apa
tentang filososinya. Ah iya, komersialisasi memang penuh kemunafikan.
Sekian.
