Senin, 12 Juni 2017

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri


https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg
Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Rawa Belong untuk menuju rumah. Pasar bunga terbesar seantero Jakarta ini menawarkan pemandangan cantik yang berbeda dengan pasar biasanya. Di sana kau tak akan menemukan sayur dan ikan, satu-satunya yang kau temukan hanya kembang alias bunga!

Pedagang kecil suka menjajakan bungan-bungannya di pinggir jalan, sepanjang rute mikrolet M11 yang biasa saya lewati. Berbagai macam bunga, saya tidak tahu namanya yang jelas semuannya cantik.

Suatu ketika saya melihat pedagang sedang menghilangkan duri dari setangkai mawar merah. Mawar merah yang biasanya diidentikan dengan lambang cinta dan kasih sayang itu.

Mengapa pedagang itu menghilangkan duri mawar?

Mungkin alasannya agar duri itu tidak melukai pembelinya.

Melihat pedagang yang menghilangkan duri itu membuat saya berpikir. Pada suatu bentuk yang indah, ia sering kali dan mampir selalu memiliki sisi buruk. Seindahnya bunga mawar, ia tetap berduri! Itu realitas yang tidak dapat dipungkiri.

Ia indah dipandang sekaligus ia juga bisa melukai. Mawar dan durinya adalah simbolisasi realitas hidup bukan hanya tentang cinta dan kasih sayang.

Menghilangkan duri pada mawar sama saja menolak realitas yang menyatakan bahwa segala sesuatu dalam hidup tidak melulu indah. Mawar yang tidak berduri bukan lagi simbolisasi realitas kehidupan, tapi ia menjadi simbol kemunafikan. Ia menutipi segala yang buruk, padahal sisi buruk itu adalah bagian dari diri yang tidak dapat dipisahkan. Mawar ya pasti berduri!

Oh tapi kan mawar-mawar ini hanya sebuah komoditi yang diperjual-belikan. Peduli apa tentang filososinya. Ah iya, komersialisasi memang penuh kemunafikan.


Sekian.

Seindahnya Mawar, Ia Tetap Berduri

https://diannovitaelfrida.files.wordpress.com/2012/08/rose-with-thorn.jpg Beberapa minggu lalu seperti biasanya saya melewati jalan Ra...